31 October 2009

28 October 2009

Studi al-Qur'an Yang Dikelirukan

Penulis: Henri Shalahuddin

muslimdaily.netUmat Islam menempatkan al-Qur'an sebagai sumber utama memahami cara berislam secara benar. Sejak generasi Sahabat hingga kini, para ulama bersungguh-sungguh mendarmabaktikan hidupnya untuk menggali makna-makna yang terkandung dalam al-Qur'an. Meskipun mereka hidup di jaman dan tempat yang berbeda, namun hasil kajian yang dituangkan dalam kitab-kitab tafsir secara prinsip tidak jauh berbeda. Adanya beberapa perbedaan penafsiran di kalangan para ulama yang bermartabat lebih bersifat variatif dan bukan kontradiktif. Sebab dalam menafsirkan ayat-ayat, mereka mengacu pada prinsip dan kaedah 'Ulum al-Qur'an yang benar, yang diwariskan secara terpercaya dari generasi ke generasi. Perkembangan prinsip kajian al-Qur'an melalui metode sanad (mata rantai) dari ulama-ulama yang bermartabat senantiasa disandarkan pada konsep wahyu. Landasan sanad yang terbina dalam tradisi keilmuan Islam dengan sendirinya tidak memberi ruang bagi berkembangnya paham relativisme dan spekulasi akal yang tidak bertanggung jawab. Dalam sebuah atsar, Abu Hurairah menuturkan: “Sesungguhnya ilmu ini (sanad) adalah agama. Oleh sebab itu, perhatikanlah dari siapa kamu mengambil agamamu.”

Landasan sanad ini secara konstan terjaga oleh tradisi ilmu yang mengakar kuat dalam masyarakat Islam hingga abad pertengahan. Pusat-pusat pembelajaran seperti masjid, halaqah (lingkar studi), madrasah, dsb., selalu dijubeli masyarakat yang haus ilmu. Bahkan di saat-saat kondisi politik sedang kacau dan kerusuhan bermunculan di mana-mana, namun tradisi ilmu tetap berjalan. Dalam suasana seperti itu, sejumlah ulama dan cendekiawan Muslim masih terus bermunculan dan memberi konstribusi bagi peradaban manusia.

Nasib Studi al-Qur'an Kini

Meskipun di sejumlah lembaga pendidikan Islam di Indonesia masih eksis memegang tradisi sanad dalam mengembangkan studi al-Qur'an, namun di beberapa lembaga pendidikan tinggi Islam, justru kondisinya berbanding terbalik. Dengan alasan "objektivitas ilmiah", netralitas hasil kajian yang tidak memihak dan menghilangkan nuansa ideologis, studi Islam terlebih lagi studi al-Qur'an dikembangkan secara liar. Tradisi sanad dianggap ketinggalan dan dipandang sebagai produk abad pertengahan yang statis dan bernuansa Islam klasik.

Sebagai gantinya, hasil kajian tokoh-tokoh orientalis dan liberal dijadikan rujukan utama dalam studi Islam. Dalam kacamata mereka, ajaran Islam seringkali dipaksa untuk berkompromi dengan realitas yang berkembang di masyarakat (sosiologis). Maka muncullah studi Islam berprespektif gender, Syariat berbasis HAM, Quran untuk perempuan, Islam yang "ramah", dst. Bukan sebaliknya, yakni Gender dalam perspektif Islam, HAM berbasis Syariat, perempuan dalam al-Qur'an, dst. Sebab ajaran-ajaran Islam tidak lagi dipandang sebagai acuan dasar dalam memahami realitas, tapi realitaslah yang dinobatkan berkuasa untuk menentukan corak Islam kekinian.

Buku "Pengarusutamaan Gender Dalam Kurikulum IAIN", adalah contoh kecil di antara gelombang pengeliruan studi Islam yang dilakukan para sarjana liberal. Buku ini merupakan kumpulan kurikulum studi Islam di salah satu perguruan tinggi Islam negeri di Indonesia yang terbit atas kerjasama dengan McGill CIDA. Sebagai contoh, misalnya Matakuliah "Ulum al-Qur’an I" (MKK, 2 SKS, semester II), dijelaskan bahwa hal-hal yang dikaji dalam perkuliahan antara lain persoalan wahyu, proses pewahyuan, sejarah teks al-Qur'an, asbab al-nuzul, nasikh mansukh, teori evolusi syari'ah, dan kaidah-kaidah tafsir.

Lebih lanjut dinyatakan bahwa: "Pendekatan dalam kuliah dilakukan sedapat mungkin berperspektif gender dengan mengemukakan berbagai contoh yang mendukung ke arah kesetaraan gender". Sedangkan tujuan matakuliah ini di antaranya: "Mahasiswa akan dapat menjelaskan situasi dan kondisi historis saat ayat-ayat al-Qur'an diwahyukan sehingga mampu mengambil pesan moralnya".

Dengan menyimak uraian pendekatan di atas, maka dipahami bahwa ayat-ayat seperti QS. 2:228 dan 282, QS. 4:3, 11 dan 34, QS. 33:59, dst., yang biasa dituding sebagai biang kezaliman dan penindasan terhadap perempuan harus ditafsiri ulang secara kontekstual. Sementara ayat-ayat seperti QS. 2:187, QS. 4:124 & 129, QS. 9:71, dst., yang mendukung paham kesetaraan gender harus ditafsirkan secara harfiyah, tekstual.

Sedangkan berkenaan dengan tujuannya, jika dicermati lebih jauh akan berpotensi untuk menolak legal formal aturan syariat yang tertuang dalam al-Qur'an. Karena hal tersebut mereka anggap bukan sebagai substansi dan pesan moral dari sebuah ayat. Asumsi ini dikuatkan dengan penekanan penjelasan tentang kondisi historis saat ayat-ayat al-Qur'an diwahyukan pada abad 7M, yang berbeda dengan realitas yang berkembang saat ini.

Apalagi dalam jadwal topik-topik perkuliahan yang diajarkan menyebutkan bahwa Makki (ayat-ayat yang diwahyukan sebelum hijrah) bersifat universal, sedangkan Madani (ayat-ayat yang diwahyukan setelah hijrah yang banyak menyinggung masalah hukum Islam) bersifat temporal. Sementara untuk Metodologi tafsir al-Qur'an yang menjadi salah satu topik perkuliahan, diarahkan mengkaji tafsir gaya Aminah Wadud. Seorang tokoh feminis liberal radikal yang tersohor berkat keberaniaannya tampil sebagai khatib dan imam shalat jumat dengan jama'ah campur baur antara laki-laki dan perempuan.

Bahan rujukan memahami al-Qur'an

Liberalisasi al-Qur'an tidak dilakukan secara serampangan, sebaliknya ia adalah sebuah konspirasi dan makar tingkat tinggi untuk merusak ajaran Islam dari dalam. Makar liberalisasi ini diprogram secara massif dan sistemik melalui kurikulum yang siap menghasilkan sarjana-sarjana Muslim yang qualified dalam mengelabuhi makna akidah dan syariat. Ungkapan ini mungkin dipandang bombastis, emosional dan provokatif. Tetapi kesan tersebut akan hilang jika mencermati buku-buku yang dijadikan bahan rujukan untuk matakuliah Ulum al-Qur’an I, di antaranya seperti Toward Understanding Islamic Law (Abdullahi Ahmad al-Naim), Wanita Dalam al-Qur'an (Aminah Wadud Muhsin), Perempuan Tertindas (Hamim Ilyas dkk), al-Kitab wa al-Qur'an (M. Syahrur), al-Risalah al-Saniyah (Mahmood Muhammad Toha), Mafhum al-Nas (Nasr Hamid Abu Zayd), Tafsir Kontekstual al-Qur'an (Taufiq Adnan Amal dan Syamsu Rizal Panggabean). Meskipun di samping itu, ada beberapa buku rujukan yang benar, namun jumlahnya sangat minor dan diletakkan di akhir.

Buku-buku rujukan yang kontroversial ini ditulis oleh para pemuja liberalisme radikal yang gemar mencetuskan pemikiran nyeleneh, bahkan beberapa di antaranya telah difatwa murtad, kabur dari negaranya dan ada yang dihukum mati. Kenyelenehan mereka jelas terlihat saat memunculkan gagasan bahwa al-Qur'an adalah produk budaya, mengingkari syariah, batasan aurat yang relatif dan berubah-ubah, menuduh bahwa mushaf yang ada sekarang ini adalah produk rekayasa politik Usman bin Affan r.a., sehingga diusulkan menerbitkan al-Qur'an Edisi Kritis, menghalalkan homoseksual, memberi stigma bahwa ciri utama Islam fundamentalis adalah mereka yang menolak menerapkan metode Kristen dan Yahudi (hermeneutika) untuk memahami al-Qur'an, dll.

Buku Aminah Wadud yang berkenaan dengan wanita dan al-Qur'an (Quran and Women) misalnya, tidak hanya dijadikan rujukan untuk matakuliah 'Ulum al-Qur'an saja, tapi juga digunakan sebagai 5 matakuliah lainnya, seperti Ulum Hadis, Tafsir, Filsafat Hukum Islam, Masail Fiqh dan Aliran Modern Dalam Islam. Demikian halnya dengan karya Hamim Ilyas dkk, Perempuan Tertindas juga dijadikan rujukan untuk 6 mata kuliah, yaitu Ulum al-Qur'an, Ushul Fiqh, Fiqh, Masail Fiqh, Sejarah Peradaban Islam dan Ilmu Dakwah.

Ketimpangan seperti ini juga menjadi tradisi di banyak matakuliah kajian keislaman. Maka dengan menetapkan satu buku sebagai rujukan untuk bermacam-macam matakuliah, mengesankan bahwa liberalisasi studi Islam ternyata dilakukan secara tidak elegan dan toleran. Sebaliknya, ia dipenuhi pemaksaan, jumud, penuh intrik dan ambisi pribadi. Sebut saja misalnya buku "Argumen Kesetaraan Gender" karya Nazaruddin Umar, dinobatkan sebagai rujukan untuk 4 mata kuliah, yaitu Ulum al-Hadis, Tafsir, Ushul Fiqh, Studi Tokoh Sastra Arab. Padahal penulisnya sendiri bukanlah seorang pakar sastra Arab dan tidak memiliki latar belakang di bidang ini. Di samping itu, buku ini juga tidak ada kaitan khusus dengan kajian ilmu Hadits, apalagi ilmu ushul fiqh.

Uniknya lagi buku Membina keluarga Mawaddah wa Rahmah dalam bingkai Sunah Nabi yang terbit atas kerjasama dengan Ford Foundation juga dijadikan sebagai rujukan untuk 3 matakuliah 'Ulum al-Hadis, Hadis dan Ilmu Dakwah. Padahal buku ini banyak menolak hadis-hadis yang tidak sejalan dengan paham feminisme Barat. Sebagai contoh, di antara isu yang dibahas dalam buku ini adalah mengkritik Hadits Nabi tentang ciri-ciri wanita salehah. Tiga ciri kesalehan wanita seperti hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dan al-Baihaqi, yaitu sikap menyenangkan pandangan suaminya, mematuhi perintahnya, dan menjaga kehormatan dirinya dan harta suaminya di saat suaminya pergi, malah dijadikan objek kemarahan. Baginya, Hadits ini dianggap tidak adil dan hanya berisi tuntutan sepihak terhadap perempuan.
Meskipun penulisnya mengakui bahwa hadits ini adalah Hadits yang sahih, tidak menyalahi al-Qur'an, tidak menyalahi amalan ulama salaf dan tidak bertentangan dengan akal sehat, tetapi penulisnya melarang kalau Hadits ini diamalkan apa adanya, secara semestinya dan tekstual. Sebaliknya, Hadits ini harus dipahami secara kontekstual-sosiologis. Karena kesalehan wanita itu relatif dan bisa berubah menurut tempat, zaman dan kebutuhan.

Penutup

Studi al-Qur'an adalah jantung studi Islam, karena memang semua ilmu keislaman bersumber darinya. Sifat kewahyuan al-Qur'an yang final dan universal, mempengaruhi karakter pendekatan studi al-Qur'an untuk tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek-aspek wahyu dan iman. Jika saja Rasulullah saat menerima wahyu mengalami perubahan fisik yang luar biasa, misalnya beliau terlihat sangat takut dan minta diselimuti, terkadang dahi beliau bercucuran keringat padahal saat itu sedang musim dingin, terkadang nampak wajah beliau kemerah-merahan dengan suara yang tidak beraturan dan terkadang tubuhnya menjadi sangat berat, sampai-sampai paha Zayd bin Tsabit terasa mau patah ketika menahan kaki Rasulullah yang tiba-tiba kedatangan wahyu. Maka apakah layak seorang Muslim saat menggali kandungan al-Qur'an mencampakkan aspek kewahyuannya untuk ditukar dengan spekulasi akal yang tidak terarah dan permisif untuk disusupi aneka purba sangka? Tidakkah merusak studi al-Qur'an berarti sebuah konspirasi memutuskan umat dari akar khazanahnya?! Wallahu a'lam wa ahkam bi l-sawab.

25 October 2009

Diskusi Sabtuan INSISTS

Menurut Imam al-Ghazali, kebahagiaan dan jiwa yang sehat itu diawali dengan ilmu pengetahuan. Maka barang siapa yang sudah hilang kemauan untuk mencari Ilmu, maka orang itu ibarat orang yang habis seleranya untuk memakan makanan yang baik; atau seperti orang yg lebih suka makan tanah daripada makan roti. Sebab kebahagiaan hakiki adalah hakekat spiritual yang kekal, keyakinan pada hal-hal mutlak tentang hakikat alam, identitas diri dan tujuan hidup. Kesemuanya itu berawal dari ilmu dan bermuara pada mahabbatullah (cinta kepada Allah).


Temukan uraian lengkapnya pada diskusi sabtuan INSISTS sbb:

Materi Diskusi: Jiwa yag Sehat Menurut Al-Ghazali
Pembicara: Henri Shalahuddin MA. (Peneliti INSISTS).
Waktu: Sabtu, 31 Oktober 2009. Jam: 10:00 s/d 12:00 WIB (on time)
Tempat: Jl. Kalibata Utara II No. 84 – Jaksel
Biaya: Free
Konfirmasi: SMS 08111102549 Phone: 0217940381

Terbatas maksimal untuk 40 peserta.



24 October 2009

Mengatasi kotak komentar diBlogger dengan Intense Debate Comment

Masalah kotak komentar diBlogger


Seringkali saya susah untuk berkomentar di Blogger, Mungkin para sobat Bloger bisa memberikan solusi tentang permasalahan yang saya hadapi, saya akan sedikit memberikan sedikit gambaran tentang permasalahan kotak komentar di Blogger


Kotak Komentar pada Blogger



Kotak Komentar pada Wordpress




Saya pernah baca artikel katanya language di control panel harus dirubah ke Inggris, Belum lama ini sahabat Blogger pernah kasih saran browser firefoxnya dienable javascriptnya dan semuanya sarannya dah saya jalanin tapi tetap aja sulit untuk berkomentar. Untuk saat ini saya lebih mudah berkomentar pada wordpress dan komentar Blogger saya pakai browser Opera tapi kadang-kadang juga gak bisa.

Kalau saya PRIBADI lebih mudah berkomentar pada Wordpress dibanding Blogger ( Saya pribadi loh.. gak tau teman-teman blogger yang lain )


Tapi sekarang saya dah ketemu solusinya yaitu menggunakan kotak komentar tambahan milik intensedebate.com seperti contoh di bawah ini insya Allah teman-teman lebih mudah untuk berkomentar


sedikit tambahan : selain intensedebate.com ada juga disqus.com fiturnya hampir sama tapi template saya dianggap error dan gak bisa pasang deh, nah kalo intensedebate.com bisa dan langsung tampil

Jika teman-teman ada kesulitan memasangnya,dicomment aja nanti insya Allah saya bantuin

21 October 2009

Diskusi Sabtuan INSISTS

Assalamu'alaikum wr wb.

Dengan ini kami mengundang rekan-rekan sekalian untuk hadir dalam Diskusi Sabtuan INSISTS, selengkapnya sebagai berikut:

Acara : Diskusi Sabtuan INSISTS
Materi Diskusi: Jilbab Kewajiban Wanita Muslimah. (Kritik Terhadap Tulisan Quraish Shihab).
Pembicara : DR. Zain an-Najah. (Peneliti INSISTS).
Waktu : Sabtu, 24 Oktober 2009. Jam: 10:00 s/d 12:00 WIB (on time)
Tempat : Jl. Kalibata Utara II No. 84 – Jakarta Selatan.
Biaya : Free
Konfirmasi : SMS 08111102549 Phone: 0217940381

Terbatas maksimal untuk 40 peserta.

Wassalamu'alaikum wr wb

20 October 2009

Memahami Perjuangan Pangeran Diponegoro

Penulis: Adian Husaini

Pada jurnal Islamia-Republika, edisi 15 Oktober 2009, dimuat sebuah artikel menarik berjudul ”Diponegoro Pangeran Santri Penegak Syariat”. Artikel itu ditulis oleh Ir. Arif Wibowo, mahasiswa Magister Pemikiran Islam-Universitas Muhammadiyah Surakarta. Artikel itu membuka kembali wacana penting dalam penulisan sejarah Islam di Indonesia bahwa Pangeran Diponegoro bukanlah pahlawan nasional yang berjuang melawan Belanda semata-mata karena urusan tanah atau tahta. Tapi, Pangeran Diponegoro adalah pahlawan Islam, bangsawan Jawa yang mendalami serius agama Islam, dan kemudian melawan penjajah Belanda dengan semangat jihad fi sabilillah. Diponegoro adalah sosok pahlawan yang berani meninggalkan tahta dan kenikmatan duniawi demi mewujudkan sebuah cita-cita luhur, tegaknya Islam di Tanah Jawa.

Berikut ini kita sajikan secara utuh tulisan yang menarik tentang Diponegoro tersebut.

Pangeran Diponegoro lahir pada 1785. Ia putra tertua dari Sultan Hamengkubuwono III (1811 – 1814). Ibunya, Raden Ayu Mangkarawati, keturunan Kyai Agung Prampelan, ulama yang sangat disegani di masa Panembahan Senapati mendirikan kerajaan Mataram. Bila ditarik lebih jauh lagi, silsilahnya sampai pada Sunan Ampel Denta, seorang wali Sanga dari Jawa Timur. Dalam bukunya, Dakwah Dinasti Mataram, Dalam Perang Dipnegoro, Kyai Mojo dan Perang Sabil Sentot Ali Basah, Heru Basuki menyebutkan, bahwa saat masih kanak-kanak, Diponegoro diramal oleh buyutnya, Sultan Hamengkubuwono I, bahwa ia akan menjadi pahlawan besar yang merusak orang kafir. Heru Basuki mengutip cerita itu dari Louw, P.J.F – S Hage – M nijhoff, Eerstee Deel Tweede deel 1897, Derde deel 1904, De Java Oorlog Van 1825 – 1830 door, hal. 89.
Suasana kraton yang penuh intrik dan kemerosotan moral akibat pengaruh Belanda, tidak kondusif untuk pendidikan dan akhlak Diponegoro kecil yang bernama Pangeran Ontowiryo. Karena itu, sang Ibu mengirimnya ke Tegalrejo untuk diasuh neneknya, Ratu Ageng di lingkungan pesantren. Sejak kecil, Ontowiryo terbiasa bergaul dengan para petani di sekitarnya, menanam dan menuai padi. Selain itu ia juga kerap berkumpul dengan para santri di pesantren Tegalrejo, menyamar sebagai orang biasa dengan berpakaian wulung.

Bupati Cakranegara yang menulis Babad Purworejo bersama Pangeran Diponegoro pernah belajar kepada Kyai Taftayani, salah seorang keturunan dari keluarga asal Sumatera Barat, yang bermukim di dekat Tegalrejo. Menurut laporan Residen Belanda pada tahun 1805, Taftayani mampu memberikan pengajaran dalam bahasa Jawa dan pernah mengirimkan anak-anaknya ke Surakarta, pusat pendidikan agama pada waktu itu. Di Surakarta, Taftayani menerjemahkan kitab fiqih Sirat AlMustaqim karya Nuruddin Ar Raniri ke dalam bahasa Jawa. Ini mengindikasikan, Diponegoro belajar Islam dengan serius. (Dr. Kareel A. Steenbrink, 1984, Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke 19, Penerbit Bulan Bintang Jakarta hal. 29).

Dalam Babad Cakranegara disebutkan, adalah Diponegoro sendiri yang menolak gelar putra mahkota dan merelakan untuk adiknya R.M Ambyah. Latar belakangnya, untuk menjadi Raja yang mengangkat adalah orang Belanda. Diponegoro tidak ingin dimasukkan kepada golongan orang-orang murtad. Ini merupakan hasil tafakkurnya di Parangkusuma. Dikutip dalam buku Dakwah Dinasti Mataram: “Rakhmanudin dan kau Akhmad, jadilah saksi saya, kalau-kalau saya lupa, ingatkan padaku, bahwa saya bertekad tak mau dijadikan pangeran mahkota, walaupun seterusnya akan diangkat jadi raja, seperti ayah atau nenenda. Saya sendiri tidak ingin. Saya bertaubat kepada Tuhan Yang Maha Besar, berapa lamanya hidup di dunia, tak urung menanggung dosa (Babad Diponegoro, jilid 1 hal. 39-40).

Perang besar

Dalam bukunya, Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke 19, Kareel A. Steenbrink, mencatat, sebagian besar sejarawan menyepakati bahwa perang Diponegoro lebih bersifat perang anti-kolonial. Beberapa sebab itu antara lain: 1. Wilayah kraton yang menyempit akibat diambil alih Belanda, 2. Pemberian kesempatan kepada orang Tionghoa untuk menarik pajak, 3. Kekurangadilan di masyarakat Jawa, 4. Aneka intrik di istana, 5. Praktek sewa perkebunan secara besar-besaran kepada orang Belanda, yang menyebabkan pengaruh Belanda makin membesar, 6. Kerja paksa bukan hanya untuk kepentingan orang Yogyakarta saja, tetapi juga untuk kepentingan Belanda.

Namun menurut Louw, sebab-sebab sosial ekonomis tadi dilandasi oleh alasan yang lebih filosofis, yaitu jihad fi sabilillah. Hal ini diakui oleh Louw dalam De Java Oorlog Van 1825-1830, seperti dikutip Heru Basuki: “Tujuan utama dari pemberontakan tetap tak berubah, pembebasan negeri Yogyakarta dari kekuasaan Barat dan pembersihan agama daripada noda-noda yang disebabkan oleh pengaruh orang-orang Barat.”
Hal ini tampak dari ucapan Pangeran Diponegoro kepada Jendral De Kock pada saat penangkapannya. “Namaningsun Kangjeng Sultan Ngabdulkamid. Wong Islam kang padha mukir arsa ingsun tata. Jumeneng ingsun Ratu Islam Tanah Jawi” (Nama saya adalah Kanjeng Sultan Ngabdulkhamid, yang bertugas untuk menata orang Islam yang tidak setia, sebab saya adalah Ratu Islam Tanah Jawa). (Lihat, P. Swantoro, Dari Buku ke Buku, Sambung Menyambung Menjadi Satu, (2002)).

Kareel A Steenbrink menyebutkan, pemikiran dan kiprah Pangeran Diponegoro menarik para ulama, santri dan para penghulu merapat pada barisan perjuangannya. Peter Carey dalam ceramahnya berjudul Kaum Santri dan Perang Jawa pada rombongan dosen IAIN pada tanggal 10 April 1979 di Universitas Oxford Inggris menyatakan keheranannya karena cukup banyak kyai dan santri yang menolong Diponegoro. Dalam naskah Jawa dan Belanda, Carey menemukan 108 kyai, 31 haji, 15 Syeikh, 12 penghulu Yogyakarta, dan 4 kyai guru yang turut berperang bersama Diponegoro.

Bagi sebagian kalangan, ini cukup mengherankan. Sebab, pasca pembunuhan massal ulama dan santri oleh Sunan Amangkurat I tahun 1647, hubungan santri dengan kraton digambarkan sangat tidak harmonis. Namun Pangeran Diponegoro yang merupakan keturunan bangsawan dan ulama sekaligus, berhasil menyatukan kembali dua kubu tersebut.
Paduan motivasi agama dan sosial ekonomi ini menyebabkan Perang Diponegoro menjadi perang yang sangat menyita keuangan pemerintah kolonial, bahkan hampir membangkrutkan negeri Belanda. Korban perang Diponegoro: orang Eropa 8.000 jiwa, orang pribumi yang di pihak Belanda 7.000 jiwa. Biaya perang 20 juta gulden. Total orang Jawa yang meninggal, baik rakyat jelata maupun pengikut Diponegoro 200.000 orang. Padahal total penduduk Hindia Belanda waktu itu baru tujuh juta orang, separuh penduduk Yogyakarta terbunuh.

Data ini menunjukkan, dahsyatnya Perang Diponegoro dan besarnya dukungan rakyat terhadapnya. Oleh bangsa Indonesia, Pangeran Diponegoro yang dikenal dengan sorban dan jubahnya, kemudian diakui sebagai salah satu Pahlawan Nasional, yang sangat besar jasanya bagi bangsa Indonesia. Louw dalam De Java Oorlog Van 1825 – 1830, menulis: “Sebagai seorang yang berjiwa Islam, ia sangat rajin dan taqwa sekali hingga mendekati keterlaluan.”
Demikianlah artikel penting yang ditulis Saudara Arif Wibowo tentang Pangeran Diponegoro. Informasi tentang Diponegoro tersebut perlu diajarkan di sekolah-sekolah kita, khususnya sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan Islam. Saya masih menemukan banyak sekolah Islam yang masih mengajarkan cerita tentang Diponegoro yang keliru dan tidak menggambarkan Diponegoro sebagai seorang pahlawan Islam. Seolah-olah Diponegoro berjuang melawan Belanda hanya karena urusan duniawi.

Kita berharap, pengelola lembaga pendidikan Islam, juga para orang tua bersedia meneliti buku-buku pelajaran anak-anaknya, agar tidak menyimpang dari ajaran Islam dan fakta yang sebenarnya.

Cobalah bertanya kepada anak-anak kita, apakah mereka memahami bahwa Islam masuk ke Indonesia adalah dibawa oleh para pedagang dari Gujarat India. Padahal, teori buatan Snouck Hurgronje itu sudah lama dijawab oleh para ulama dan sejarawan Muslim. Para pendakwah Islam di wilayah Nusantara ini bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka adalah para pendakwah yang datang dari negeri Arab yang serius mendakwahkan Islam; bukan sekedar pekerjaan sambilan dari pekerjaan utama, yaitu berdagang.

Dalam berbagai kesempatan bertemu dengan lembaga-lembaga pendidikan, saya mengajak para pimpinan dan guru-gurunya, agar serius memperhatikan pelajaran sekolah anak-anaknya. Suatu ketika anak saya menyodori sebuah soal pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas VI Sekolah Dasar dari suatu sekolah Islam terkenal. Salah satu soalnya menceritakan bahwa ada seorang anak yang rumahnya jauh dari rumah. Setelah pulang sekolah ia harus membantu ibunya berjualan sampai Magrib. Usai shalat Magrib, dia masih harus mengaji, sehingga esoknya di sekolah dia kecapekan dan mengantuk.

Soal semacam ini seyogyanya tidak diberikan kepada anak didik, apalagi di sekolah Islam. Mestinya diajarkan bahwa meskipun anak tersebut rumahnya jauh, harus membantu orang tuanya berjualan, dan juga harus mengaji, tetapi si anak tetap dapat meraih prestasi dengan baik di sekolahnya. Faktanya, tidak sedikit anak-anak berprestasi di sekolahnya justru anak-anak yang suka belajar dan bekerja keras, meskipun berada dalam kondisi kehidupan yang tidak mudah.

Itulah pentingnya lembaga-lembaga pendidikan Islam melakukan perbaikan terhadap guru-guru dan kurikulum serta buku-buku pelajarannya. Kita berharap, dari sekolah-sekolah itulah akan lahir anak didik yang beradab. Yakni, anak didik yang mampu memandang dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya sesuai derajat yang ditentukan Allah SWT.
Seorang Pangeran Diponegoro harus diletakkan secara terhormat sebagai pahlawan pejuang agama Allah. Era reformasi dan keterbukaan harusnya mampu dimanfaatkan sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan Islam untuk merevisi, dan kalau perlu merombak, buku-buku pelajaran yang selama ini diajarkan kepada anak didik mereka.

Pelajaran sejarah sangat penting diberikan dengan mengungkap fakta dan perspektif yang benar untuk membentuk persepsi dan sikap hidup. Ketekunan, keikhlasan, kezuhudan, dan semangat jihad Pangeran Diponegoro seharusnya dipaparkan dengan benar kepada anak didik sehingga mereka tergerak untuk mengambil hikmah dan meneladani sang pahlawan Islam tersebut.

[Jakarta, 17 Oktober 2009/www.hidayatullah.com]
Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com

19 October 2009

17 October 2009

Betapa Jauhnya Kita Dari Allah

Ada banyak hal yang menyenangkan hati di kehidupan ini, dan ada juga yang tidak
menyenangkan. Tapi bagi seorang mukmin, semua keadaan akan menyenangkan hati.
Sebagaimana kita ridha menerima datangnya siang, kita kudu juga ridha menerima datangnya malam.


Sebagaimana kita senang menjalani kehidupan yang terang, kita kudu juga siap dengan datangnya
kegelapan. Betapapun ia sunnatullah di kehidupan ini. Satu hal yang harus kita yakini adalah di mana
pun situasi kita berada, ada Allah yang senantiasa menemani. Susah senang adanya di hati. Gelap
terang, bukan di mata. Barangkali, ikhlas menjalani hidup ini, pun merupakan pelajaran tauhid yang
senantiasa akan diperlukan sebagai bekal di kehidupan ini.
Saudara-saudaraku peserta kuliah online yang berbahagia, RINDU rasanya saya ketemu dengan
Saudara-saudara semua, salah satu partner terbaik saya dalam belajar tentang Allah, rasul-Nya, dan
kehidupan. Bulan-bulan terakhir ini, Allah memberikan keluarga kami hidangan-Nya. Sama saja
dengan siapapun di dunia ini, ada susah, ada senang. Dan saya kira semuanya adalah persoalan
penerimaan terhadap hidup ini. Kalau kita terima, maka semua keadaan akan baik-baik saja, akan
senang-senang saja.


Orang-orang yang punya hutang, misalnya, ketika ia kemudian menyadari bahwa ia tidak bisa bayar
hutang-hutangnya, ketakutan demi ketakutan akan menghantui kehidupannya. Takut dipenjara, takut
ketahuan sama keluarga, takut dilecehkan tetangga dan saudara-saudara, takut kehilangan muka, takut
merugikan orang lain (yang sebenernya sudah terjadi), dan takut sama kenyataan-kenyataan yang
sesungguhnya belum terjadi! Orang-orang ini takut sama bayang-bayangnya sendiri bahkan. Jadilah
kemudian mereka gelap di tengah dunia yang semestinya terang. Sendirian di saat dunia ini begitu
penuh dengan manusia. Kesepian di saat dunia ini ramai. Ga berani keluar rumah. Ga berani ketemu
orang. Ga berani menegakkan muka. Bahkan ga berani membuka mata! Inginnya kabur saja, bahkan
tidak jarang kepengennya mati saja.


Hidup lantas jadi cape, letih, lelah. Semakin dicari itu solusi, semakin membuahkan masalah-masalah
baru. Orang-orang yang gagal ini kebanyakan sebab gagal memikirkan Allah, tuhannya. Yang ia
pikirkan, nasibnya, nasibnya, nasibnya. Bukan memikirkan kelakuan-kelakuannya kepada Allah dan
rizki-Nya yang selama ini kita sudah tidak syukur kepada-Nya.
Dan saya melihat saya. Saya tidak mau demikian itu terjadi dalam hidup saya. Saya lebih memilih
ikhlas menjalani kesusahan, sebagai penerimaan rangkaian akibat dari kejauhan saya dari Allah.


Betul, saya yakinkan diri saya, alih-alih saya memikirkan solusi, lebih baik akhirnya saya memikirkan
Dia dan saya. Maksudnya, saya memikirkan bagaimana sih perjalanan kehidupan saya? Apakah ada
Allah di sana? Seberapa dekat dan seberapa jauhnya saya? Ternyata masya Allah, saya menangis.
Saya jauh dari Allah. Saya banyak lalainya hidup ini. Perjalanan saya sudah jauh melenceng dari
tujuan diciptakan-Nya saya; yaitu untuk beribadah kepada-Nya.


Perjalanan saya di kemudian hari ternyata – menurut saya -- perjalanan tauhid. Saya menyebutnya
perjalanan mencari Tuhan yang hilang. Hilang kemana? Hilang dari hati dan kehidupan. Perjalanan
mencari Tuhan yang hilang di hati ini. Tentu saja saya berupaya kembali memasukkan Allah di hati,
di pikiran, biar mewarnai gerak kehidupan. Semoga saya dan Anda semua, tidak kehilangan lagi Allah
di kehidupan ini. Maka senantiasa ada doa yang dibaca setiap habis shalat; Rabbanaa laa tuzigh
quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wa hablanaa mil ladunka rahmatan. Innaka antal wahhaab, ya
Allah, janganlah Engkau kembali menyesatkan kami setelah Engkau memberikan kami hidayah,
petunjuk. Dan karuniakanlah kami hidup yang penuh rahmat. Sesungguhnya Engkaulah Allah Yang
Maha Memberi Karunia, Maha Memberi Pengajaran.


Maka bolehlah saya menyebut, kegagalan manusia memperbaiki kehidupannya, atau
mengubah kehidupannya menjadi lebih baik lagi, adalah sebab imannya tidak dibenerin.
Tauhidnya tidak dibenerin. Amal ibadah memang barangkali dibangun, dikerjakan, tapi iman dan
tauhidnya ga ada. Akhirnya banyak yang malah kemudian mengeluh. Kenapa saya sudah bertobat,
koq tetap saja susah? Kenapa koq saya sudah kembali pada Allah, tapi kemudian masih saja sulit?


Dan pertanyaan-pertanyaan yang semakin menyesatkan diri kita dari Allah. Bukannya semakin ikhlas
menjalani hidup, malah kemudian bertambah sesak. Bukannya semakin menerima, malah kemudian
makin sengsara. Cukuplah Allah Penolongku, inilah kalimat yang semestinya disuarakan terus
menerus di hati kita. Ya Allah ampunilah saya, ini kalimat yang semestinya keluar dari lisan, hati
dan pikiran kita. Engkaulah Pengaturku ya Allah. Terserah Engkau mengatur apa, bikinlah hati
ini menjadi ikhlas karena-Mu. Begini mestinya. Akhirnya hati tidak beriak lagi. Adem. Ikhlas.
Allah berada di balik semua kejadian. Allah yang mengatur segalanya. Dengan ilmu seadanya, saya
mengubah haluan hidup. Dari yang tadinya mencari solusi, akhirnya gerak langkah dan pikiran
difokuskan untuk mencari Allah. Mencari-Nya dengan memperbaiki diri, memperbaiki ibadah,
membanyakkan amal saleh. Praktis saat itu, saat-saat di mana saya butuh pertolongan-Nya, saya tidak
melakukan serangkaian pencarian solusi lagi. Saya kembali kepada Allah saja. Yang lain bilang
bahwa saya tidak melakukan sesuatu untuk masalah saya, sedangkan saya menolak dikatakan
demikian. Inilah ikhtiar saya, setelah tidak ada lagi yang bisa saya lakukan. Dan semestinya inilah
yang sedari dulu saya lakukan, jangan mesti menunggu tidak ada lagi yang bisa saya lakukan. Sebab
inilah inti segala inti. Percuma mencari segala teori penyelesaian hidup, jika Yang Maha Segala tidak
menghendaki.


Untuk lebih lengkapnya silahkan download versi cetaknya
KDW0122 Seri 22 dari 41 seri/esai

15 October 2009

14 October 2009

Sebuah Keutamaan

Ibadah adalah salah satu ikhtiar mendapatkan dunia.

Saya masih tertarik untuk membahas tentang “menempuh jalan ibadah sebagai sebuah
keutamaan”.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit orang yang menyalahkan orang lain yang
beribadah sebagai jalan ikhtiar mencari dunia-Nya Allah. Saya lebih menyebutnya sebagai
“sebuah keutamaan”.

Ya, mencari dunia dengan jalan beribadah adalah sebuah keutamaan.
Mengapa demikian?

Sebab bukankah mengikuti anjuran Allah dan Rasul-Nya adalah juga ibadah? Dunia
adalah milik Allah. Ketika Allah memerintahkan kita begini dan begitu ketika kita mencari
dunia milik-Nya, maka ini menjadi sebuah ibadah yang sangat hebat. Di samping tentu
menjadi sebuah wujud iman dan keyakinan kepada-Nya. Itu’kan sebutan betawinya nurut,
atau percaya.

Saudaraku, terhadap dokter saja, keyakinan kita bukan main hebatnya. Ketika seorang
dokter mengatakan, “Anda harus dioperasi segera... dalam hitungan 24 jam!” Wah, kita akan
terbirit-birit mengiyakan. Andai kita tidak ada uang pun kita akan mengusahakan setengah
mati, pinjam sana pinjam sini. Kalau perlu, kita tinggalkan rumah kita, kita korbankan
kendaraan kita untuk mendapatkan uang buat operasi.

Ada ahli desain interior. Dia berkunjung ke rumah kita. Lalu memberikan advisnya
tentang tata ruang yang lebih membuat sirkulasi udara rumah kita menjadi lebih bagus, maka
insya Allah kita akan mengubah tata letak rumah kita tersebut andai memang kita ada uang.
Atau malah jangan-jangan kepikiran terus untuk sesegera mungkin menjalankan advis sang
desainer interior tersebut.

Terhadap saran manusia, terhadap nasihat manusia, kita bak… bik… buk… memikirkan
dan mengikutinya. Mengapa terhadap nasihat Allah dan Rasul-Nya tidak kita ikuti? Apakah
karena kita tidak percaya kepada Allah dan Rasul-Nya? Atau jangan-jangan kita terjebak
kepada kesungkanan atau makna keikhlasan yang barangkali perlu dikoreksi? Sehingga
ibadah kita tidak bertenaga? Tidak memiliki spirit? Sebab bisa jadi bayang-bayang tidak
boleh beribadah karena meminta sesuatu dari Allah; entah itu dunia-Nya, berharap solusi
dari-Nya, menjadikan kita seperti setengah-setengah beribadah. Bukan karena penuh
pengharapan kepada-Nya, atas janji-janji-Nya sendiri.

Macam gini, Allah menyebut bahwa jalan tahajjud akan membuat hidup seseorang
berubah menjadi lebih baik lagi. Bila dilakukan terus-menerus akan membuat seseorang naik
terus derajat dan kemuliaannya. Lalu, ada seseorang yang melakukan tahajjud sebab percaya
akan firman-firman Allah dan hadits-hadits Rasul seputar tahajjud ini, dan kemudian
menyandarkan harapan hanya pada-Nya -sekali lagi, hanya pada-Nya-, apakah ini salah?
Lebih utama mana dengan yang tidak mengerjakannya? Atau lebih utama mana dengan yang
mengerjakannya tanpa berharap kepada-Nya? Apalagi kalau kita sepakat bahwa meminta
kepada Allah pun merupakan ibadah tersendiri? Tahajjud ya ibadah... dan meminta (do’a)
adalah juga ibadah. Maka bila seseorang melakukan tahajjud dan juga berdo’a kepada Allah,
bukankah dia malah dapat dua keutamaan?

Terus lagi, Rasul misal pernah bilang juga begini, “Kalau mau dibantu Allah, bantulah
sesama.” Lalu, seseorang yang menghendaki pertolongan Allah bergegas menyambut seruan
ini untuk benar-benar berharap turunnya pertolongan Allah baginya. Apakah ini salah? Tega
bener kalo salah mah.

Saudaraku, ayo! Beranilah meminta. Kalimat bahwa beribadah sama Allah, beribadah
saja, jangan minta-minta sama Allah, harus ikhlas, ini menurut saya perlu dilakukan lagi
penelitian mendalam. Kasihan orang yang butuh pertolongan Allah yang menempuh jalan
ibadah dan jalan-jalan yang diseru-Nya.

Mohon do’a agar Allah memberikan bimbingan kebenaran dari-Nya. Dan juga mohon
koreksi apabila ada pembaca yang lebih arif, lebih alim, dan lebih mengetahui tentang hal-hal
apa yang saya tulis. Andai ada kebenaran, datangnya dari Allah. Apabila ada kesalahan,
itulah saya, Yusuf Mansur, yang memang begitu banyak kekurangannya. Kepada Allah
semua kita kembalikan.

Untuk lebih lengkapnya silahkan download versi cetaknya





KDW0121 Seri 21 dari 41 seri/esai

13 October 2009

Diskusi Sabtuan INSISTS

Assalamu'alaikum wr wb.

Dengan ini kami mengundang rekan-rekan sekalian untuk hadir dalam Diskusi Sabtuan INSISTS, selengkapnya sebagai berikut:

Acara : Diskusi Sabtuan INSISTS

Materi Diskusi : Sejarah Gerakan dan Pemikiran Wahabi.

Pembicara : Asep Sobari Lc. (Peneliti INSISTS bidang sejarah)

Waktu : Sabtu, 17 Oktober 2009. Jam: 10:00 s/d 12:00 WIB (on time)

Tempat : Jl. Kalibata Utara II No. 84 – Jaksel

Biaya : Free

Konfirmas i: SMS 08111102549 Phone: 0217940381

Terbatas maksimal untuk 40 peserta.

Wassalamu'alaikum wr wb.

9 October 2009

Pentingkah Dunia?

Banyak sekali perumpamaan tentang dunia di dalam al Qur’an. Hebatnya, sangat fair Allah
mengajarkan kita tentang dunia-Nya. Ga apa-apa kita mencari dunia, asal kita ga melupakan Allah.
Sayang, kebanyakan manusia tidak punya tauhid yang bagus. Pas ga ada dunia di kakinya, dia nangisnangis
minta sama Allah. Begitu ada, Allah dilupakan. Ada yang lurus-lurus saja ketika ga megang
harta. Begitu punya harta, berubah. Berubah sombong, berubah lalai, berubah “nafsi-nafsi”/hidup
sendiri-sendiri, dan kelewat sibuk sampe lupa sama Allah ‘azza wa jalla.

Sementara itu, tidak sedikit juga yang kemudian tetap selamet dan menjadikan “memiliki” dunia
sebagai keutamaan yang menambah iman dan kesalehan. Tentu saja kita kepengen seperti yang
disebut terakhir ini. Punya dunia, tetap saleh. Malah bertambah saleh. Punya dunia, bertambah
tawadhu’. Punya dunia, tapi bertambah-tambah kebaikannya. Punya dunia, bertambah-tambah
takutnya sama Allah. Entahlah, saya yang muda ini masih menganggap, jadilah orang-orang yang
terdepan dalam dunia dan akhirat, ga boleh timpang salah satunya. Namun segitunya saya berprinsip
ini, saya pun mengamini agar diri kita siap saja dulu. Daripada kemudian berubah menjadi liar setelah
memegang dunia.

Ok, mudah-mudahan selingan esai-esai di 2 kuliah kemaren, sudah cukup menjawab beberapa
pertanyaan yang dialamatkan ke saya. Berikut ini kita lanjutkan esai-esai yang masih berkelanjutan
dengan soal-soal tauhid yang dilekatkan/dikaitkan dengan shalat. Bagi saya, ini juga persiapan
memegang dunia tapi mengendalikannya, bukan dikendalikan dunia. Betapapun, menjadi muslim
yang kuat, yang berhasil, yang banyak manfaatnya, lebih disukai Allah ketimbang muslim yang
kemudian menjadi beban bagi orang lain dan minim manfaat gara-gara ketidakberdayaan SDM dan
ekonominya.


Tidak Sadar


(+) Tambah sibuk ya…?
(-) Alhamdulillah… Begitulah.
(+) Sudah berapa cabang sekarang ini…?
(-) Baru empat cabang. Saya jadi lumayan sibuk muter antar-cabang.
(+) Wah, subhaanallaah ya.
(-) Iya, subhaanallaah… Alhamdulillah.



Untuk lebih lengkapnya silahkan download versi cetaknya


KDW0120 Seri 20 dari 41 seri/esai

7 October 2009

INSISTS Official Site

Assalamu'alaikum wr wb.

Dengan ini kami mengundang rekan-rekan sekalian untuk hadir dalam Diskusi Sabtuan INSISTS, selengkapnya sebagai berikut:

Acara: Diskusi Sabtuan INSISTS

Materi Diskusi: Liberalisasi Syariah (Membedah ISLAMIA Jurnal Pemikiran Islam, yang Insya Allah akan terbit di harian umum REPUBLIKA pada hari Kamis tanggal 8 Oktober 2009).

Pembicara: Henri Shalahuddin MA (Peneliti INSISTS)

Waktu: Sabtu, 10 Oktober 2009. Jam: 10:00 s/d 12:00 WIB (on time)

Tempat: Jl. Kalibata Utara II No. 84 – Jaksel

Biaya: Free

Konfirmasi: SMS 08111102549 Phone: 0217940381

Terbatas maksimal untuk 40 peserta.

Wassalamu'alaikum wr wb.


6 October 2009

Ibadah; Jalan Rezeki Utama, Bekerja Dengan Allah, Bekerja Untuk Allah

Ibadah Tujuan Hidup

Abang Kun bangun. Anak saya yang ketiga, laki-laki. Namanya Muhammad Kun Syafi’i. Kami
memangginya Abang Kun. Barangkali sebab dipanggilnya abang, maka pas ia berumur empat
bulan, istri saya “isi” lagi, alias hamil lagi. Lahirlah kemudian bayi yang ke-empat, yang bisa
sembuh, sehat, nromal, sebab salah satunya doa-doa para jamaah semua kepada Allah.
Abang Kun bangun. Jam masih menunjukkan pukul 01-an dinihari. Di TVRI sedang
berlangsung LIVE siaran Tarawih dari Mekkah. Subhaanallaah, sambil muraja’ah juz ke-14
untuk ngimamin tarawih besok, saya berdoa agar anak-anak saya dan keluarga, bisa semuanya
berangkat ke Baitullaah. Tidak ketinggalan saya berdoa pula untuk Anda peserta KuliahOnline,
agar bisa menikmati bersimpuh di hadapan Allah, di Baitullaah-Nya. Ya Allah, saya juga
berkesempatan berdoa agar semua kaum muslimin berkesempatan menjadi tamunya Allah.


Abang Kun dibuatkan susu oleh Bu Yayuk. Saya masuk ke kamarnya Abang, dan
mengambilnya. Saya gendong, saya usap punggungnya, dan saya katakan padanya: “Abang,
lihat Mekkah yuk. Lihat Ka’bah. Lihat yang pada tarawih malam hari ini di Masjidil Haram”.
Dalam keadaan TV mati, saya hidupkan. Abang terdiam dari nangisnya. Dan masya Allah, dia
bersorak ketika melihat langsung menara-menara Masjidil Haram. Abang menunjuk-nunjuk
dengan tangan mungilnya layar di TV, dan melihat dengan mata tidak berkedip.
Ya Allah, kami berdua menikmati bacaan ayat suci al Qur’an. Alunannya membuat saya rindu
akan Baitullaah.

Kebetulan pula, rombongan Umrah Ramadhan Wisatahati/Daarul Qur’an, yang ke sekian,
berangkat shubuh ini, dipimpin oleh KH. Kosasih. Selamat jalan jamaah umrahku, bawalah doa
untuk negeri ini. Agar negeri ini mau tunduk dan ta’at kepada Allah. Hanya itu jalannya kalau
negeri ini mau makmur kembali. Selamat jalan wahai jamaah umrahku, dan jamaah umrah dari
seluruh tanah air. Panjatkanlah doa di sana agar pertolongan Allah segera hadir di kehidupan
anak negeri di seluruh negeri. Agar Allah juga berikan ampunan kepada seluruh keluarga besar
negeri ini; ya pimpinannya, ya ulamanya, ya habaaibnya, ya masyarakatnya. Semuanya. Agar
keridhaan Allah mengiringi seluruh ikhtiar negeri ini memperbaiki diri dan meningkatkan
kesejahteraan dus keluar dari segala krisis. Selamat jalan jamaah umrah semua. Semoga Anda
semua diberi Allah ganti ongkos umrah dan keletihan selama berumrah dengan kelezatan
ibadah, iman dan kembali dengan umrah yang mabrur.

Peserta KuliahOnline, sesuai dengan janji saya, bahwa hari ini kita akan belajar tentang
“Ibadah: Jalan Rizki Utama”, maka saya hadirkan esai ini melengkapi esai Kuliah Tauhid.
Sama dengan esai kemaren, esai ini saya cuplik seadanya juga dari buku The Miracle.


Untuk lebih lengkapnya silahkan download versi cetaknya


KDW0119 Seri 19 dari 41 seri/esai

3 October 2009

Makna Gempa Sumatra

Bumi Indonesia, negeri kita, lagi-lagi dihantam gempa. Kali ini, 30 September 2009, wilayah Sumatra Barat, khususnya kota Padang dan Pariaman menerima pukulan berat. Bumi digoncang keras dengan gempa berkekuatan 7,6 skala Richter. Hampir semua gedung bertingkat di Kota Padang runtuh atau rusak berat. Ratusan orang tertimbun dalam reruntuhan gedung. Ratusan lainnya tertimbun tanah. Bahkan ada puluhan anak yang sedang belajar di satu gedung bimbingan belajar tertimbun reruntuhan bangunan.

Mengapa semua ini terjadi? Mengapa peristiwa ini menimpa bumi Minang yang terkenal dengan semboyan ”Adat bersendi syara’ dan syara’ bersendi Kitabullah”. Dan Mengapa ini terjadi? Padahal, baru sebulan lalu, pada awal September 2009, tepat di awal-awal Ramadhan 1430 Hijriah, wilayah kita lain, Jawa Barat bagian selatan, dihantam gempa serupa. Hanya saja, karena lokasi pusat gempa yang jauh dari daerah pemukiman, maka dampaknya tidak sedahsyat gempa di Sumatra kali ini. Namun, waktu itu, gempa sempat membuat panik warga ibu kota Jakarta. Banyak gedung bertingkat sudah bergoyang dan penghuninya berhamburan.

Seperti biasa, setiap terjadi gempa, para ilmuwan selalu menjelaskan, bahwa gempa terjadi karena bergeser atau pecahnya lempengan tertentu di bumi. Bagi orang sekular, gempa dianggap sebagai peristiwa alam biasa. Tidak ada hubungannya dengan aspek Ketuhanan. Tapi, sebaliknya, orang mukmin yakin benar bahwa gempa ini bukan sekedar peristiwa alam biasa. Hubungan kausalitas tidaklah bersifat pasti, tetapi tergantung kepada kehendak (Iradah) Allah. Api yang mestinya membakar tubuh Nabi Ibrahim, bisa kehilangan daya bakarnya, karena kehendak Allah. Biasanya, dalam berbagai bencana muncul berbagai ”keajaiban” yang di luar jangkauan manusia.



Allah SWT menjelaskan dalam al-Quran (yang artinya):

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) Maka Sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS Al-Hadid:22-24)


Sebuah ayat al-Quran juga menjelaskan terjadinya peristiwa semacam gempa bumi di masa lalu, (yang artinya): "Orang-orang sebelum mereka telah melakukan makar kepada Allah, maka Allah menghancurkan bangunan-bangunan mereka dari pondasi-pondasinya, dan Allah menjatuhkan atap-atap (bangunan) dari atas mereka, dan Allah menurunkan azab dari arah yang tidak mereka perkirakan.” (QS an-Nahl: 26).

Entah rahasia apa yang terkandung dalam Gempa Sumatra kali ini. Setiap musibah mengandung banyak makna. Akal kita terlalu terbatas untuk memahami hakekat segala sesuatu dalam kehidupan. Kita tidak mudah paham, mengapa dalam gempa kali ini, begitu banyak anak-anak yang tertimbun reruntuhan gedung. Anak-anak itu sedang belajar. Bukan sedang bermaksiat. Hikmah apa yang terkandung dalam peristiwa semacam ini? Tidak mudah memahami semua itu, sebagaimana juga Nabi Musa a.s. sangat sulit memahami berbagai tindakan Chaidir a.s.



Memang, suatu musibah bisa bermakna sebagai hukuman Allah bagi orang-orang yang berdosa. Musibah juga bisa bermakna ujian bagi orang-orang yang beriman. Musibah pun bermakna peringatan Allah bagi orang-orang yang selamat. Kita yang selamat dari musibah, sejatinya sedang diberi peringatan oleh Allah, agar kita segera ingat kepada Allah, agar segera melakukan evaluasi dan segera melakukan perbaikan diri. Biasanya, manusia memang cenderung mendekat kepada Allah ketika berada dalam bahaya. Kita biasanya berdoa dengan tulus ikhlas ketika pesawat yang kita tumpangi dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Ketika itu kita berjanji, berdoa dengan tulus, bahwa kalau kita selamat, maka kita akan berbuat baik di dunia. Tapi, ketika pesawat mendarat dengan selamat, maka biasanya manusia kembali melupakan Allah dan sibuk dengan urusan dunia. Sejumlah ayat al-Quran menggambarkan sifat manusia kebanyakan semacam itu:



”Dialah (Allah) yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan; sehingga ketika kamu berada di dalam bahtera, lalu meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, maka datanglah angin badai; dan ketika gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka tengah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan keta’atan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): ”Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.”



Maka, tatakala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi, tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu; lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Yunus: 22-23).


Bagi saudara-saudara kita yang terkena musibah, Insyaallah ini adalah ujian bagi mereka. Jika mereka sabar, maka pahala besarlah bagi mereka. Ujian adalah bagian dari kehidupan orang mukmin, baik ujian senang maupun ujian susah. Manusia selalu diuji imannya. Dengan ujian itulah, maka tampak, siapa yang imannya benar dan siapa yang imannya dusta.



”Apakah manusia menyangka b ahwa mereka akan dibiarkan mengatakan ”Kami beriman”, sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS al-Ankabut: 2-3).


Lihatlah di dunia ini! Ada orang-orang yang diuji oleh Allah dengan segala macam kekurangan. Ada yang diuji dengan kecacatan, kebodohan, dan kemiskinan. Ada yang diuji dengan harta melimpah, kecerdasan, dan kecantikan. Ada yang diuji dengan musibah demi musibah. Semua itu adalah ujian dari Allah. Hidup di dunia ini adalah menempuh ujian demi ujian. Jika kita lulus, maka kita akan selamat di akhirat. Karena itu, apa pun hakekat dari musibah gempa Sumatra kali ini, maka mudah-mudahan ujian itu mampu mendorong saudara-saudara kita di sana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah dan semakin aktif berdakwah memberantas segala bentuk kemunkaran yang mendatangkan kemurkaan Allah. Kita diingatkan, bahwa manusia mudah lupa. Sampai beberapa hari setelah musibah, biasanya masjid-masjid masih dipenuhi jamaah. Tapi, setahun berlalu, biasanya manusia sudah kembali melupakan Allah dan lebih sibuk pada urusan duniawi.


Bagi yang meninggal dalam musibah, kita doakan, semoga mereka diterima Allah dengan baik; amal-amalnya diterima, dan dosa-dosanya diampuni. Musibah tidak pandang bulu. Manusia yang baik dan buruk juga bisa terkena. Allah SWT sudah mengingatkan, “Dan takutlah kepada fitnah (bencana, penderitaan, ujian) yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah, Allah sangat keras siksanya.” (QS an-Anfal:25).



Kita yang selamat baiknya segera menyadari, bahwa di mana pun kita berada, kematian akan selalu mengintai. Dalam surat an-Nahl:26, kita diingatkan, bahwa hukuman Allah ditimpakan kepada umat manusia, karena melakukan makar kepada Allah. Mereka berani menentang Allah secara terbuka, secara terang-terangan. Kita tidak perlu ikut-ikutan tindakan makar kepada Allah yang dilakukan sebagian orang. Misalnya, Allah jelas-jelas menghalalkan pernikahan dan mengharamkan zina. Tetapi yang kita saksikan, di negeri kita, ada orang nikah malah masuk penjara dan para pelaku zina tidak mendapatkan sanksi apa-apa. Bahkan, di negeri yang harusnya menjunjung tinggi paham Tauhid (Ketuhanan Yang Maha Esa) ini, sejumlah media massa berani menghujat hukum-hukum Allah secara terbuka. Padahal, yang berhak menentukan halal dan haram adalah Allah. Adalah tindakan yang tidak beradab jika maanusia berani merampas hak Allah tersebut.



Kita menyaksikan, bagaimana sekelompok orang – dengan alasan kebebasan berekspresi (freedom od expression) -- dengan terang-terangan menantang aturan Allah dalam soal pakaian. Mereka menyerukan kebebasan. Mereka pikir, tubuh mereka adalah milik mutlak mereka sendiri, sehingga mereka menolak segala aturan tentang pakaian. Bukankah tindakan itu sama saja dengan menantang Allah: ”Wahai Allah, jangan coba-coba mengatur-atur tubuhku! Mau aku tutup atau aku buka, tidak ada urusan dengan Engkau. Ini urusanku sendiri. Ini tubuh-tubuhku sendiri! Aku yang berhak mengatur. Bukan Engkau!” Memang, menurut Prof. Naquib al-Attas, ciri utama dari peradaban Barat adalah ”Manusia dituhankan dan Tuhan dimanusiakan!” ((Man is deified and Deity humanised). Manusia merasa berhak menjadi tuhan dan mengatur dirinya sendiri. Persetan dengan segala aturan Tuhan!


Para ulama sering menyerukan agar tayangan-tayangan di TV yang merusak akhlak dihentikan. Banyak laki-laki yang berpakaian dan berperilaku seperti wanita. Padahal itu jelas-jelas dilaknat oleh Rasulullah saw. Tapi, peringatan Rasulullah saw yang disampaikan para ulama itu diabaikan, bahkan dilecehkan. Kaum wanita yang tercekoki paham kesetaraan gender didorong untuk semakin berani menentang suami, menolak kepemimpinan laki-laki dalam rumah tangga, dan menganggap wanita sama sederajat dengan laki-laki. Bahkan, di zaman seperti sekarang ini, ada sejumlah dosen agama yang secara terang-terangan berani menghalalkan perkawinan sesama jenis. Manusia seperti ini bahkan dihormati, diangkat sebagai cendekiawan, disanjung-sanjung, diundang seminar ke sana kemari, diberi kesempatan menjadi dosen agama. Jika manusia telah durhaka secara terbuka kepada Allah, maka Sang Pencipta tentu mempunyai kebijakan sendiri. Rasulullah SAW bersabda: "Apabila perzinaan dan riba telah melanda suatu negeri, maka penduduk negeri itu telah menghalalkan turunnya azab Allah atas mereka sendiri". (HR Thabrani dan Al Hakim).

Dalam soal homoseksual, Allah sudah memperingatkan:



“Dan (ingatlah) ketika Luth berkata pepada kaumnya: "Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang Amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu". (QS al-Ankabut:28).


Rasulullah saw juga memperingatkan:


“Barangsiapa yang kalian dapati sedang melakukan perbuatan kaum Luth (homoseksual) maka bunuhlah pelaku dan pasangannya.” (HR Ahmad).

Pada setiap zaman, manusia selalu terbelah sikapnya dalam menyikapi kebenaran. Ada yang menjadi pendukung kebenaran dan ada pendukung kebatilan. Yang ironis, di era kebebasan sekarang ini, ada orang-orang yang sebenarnya tidak memahami persoalan dengan baik, ikut-ikutan bicara. Pada 29 September 2009 lalu, dalam perjalanan kembali ke Jakarta, di tengah malam, saya mendengarkan pro-kontra masyarakat tentang rencana kedatangan seorang artis porno dari Jepang ke Indonesia. Si artis itu kabarnya akan main film di Indonesia. Yang ajaib, banyak sekali pendengar radio tersebut yang menyatakan dukungannya terhadap kedatangan artis porno tersebut. Kata mereka tidak ada alasan untuk melarangnya, karena dia bukaan teroris. Suara MUI yang keberatan dengan rencana kedatangan artis tersebut, menjadi bahan ejekan. Sungguh begitu sukses setan dalam menipu manusia, sehingga perbuatan-perbuatan bejat dipandang indah; sebaliknya perbuatan baik malah dipandang jahat.



”Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi setan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka setan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih.” (QS an-Nahl: 63).


Mudah-mudahan segala macam musibah yang menimpa kita dan saudara-saudara kita mampu melecut kita semua untuk sadar diri dan mengenali mana yang baik dan mana yang buruk. Allah SWT senantiasa membukakan pintu taubat-Nya untuk kita semua. Dunia ini hanyalah kehidupan yang penuh dengan tipuan dan ujian. Akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya. Banyak manusia meratapi bencana fisik, tapi mengabaikan bencana iman berupa meluasnya kekufuran. Kita wajib menolong saudara-saudara kita yang tertimpa musibah, semampu kita. Pada saat yang sama, kita berdoa, mudah-mudahan Allah masih mengasihani kita semua, menunda azab atau hukumannya, dan memberikan kesempatan kepada kita untuk berbenah dan memperbaiki diri. Amin. [Depok, 3 Oktober 2009/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta FM dan situs www.hidayatullah.com

Tidak Ikhlas?

Tidak Ikhlas?

Di esai Bicara Tauhid Bicara Keyakinan, dan di sampel ”sedekah mengantarkan umrah”, saya
perhatikan kemudian muncul banyak pertanyaan dari Peserta KuliahOnline tentang ”Ikhlas
tidak ya kalau kita bersedekah sebab mengharap imbalan?”.

Sebenernya ini soal klasik yang sering ditanyakan oleh jamaah. Baiklah, saya selang dulu
dengan esai tentang keikhlasan dan doa, yang saya ambil seadanya dari buku terbaru saya
yang judulnya: ”an Introduction to THE MIRACLE”.
Esai ini seadanya memang saya ambil. Silahkan saja direnungkan. Mudah-mudahan bisa
menjelaskan tentang perbedaan antara ikhlas, yakin, nurut sama Seruan Allah, serta doa.


Buat saya ini adalah soal Tauhid. Soal keyakinan, soal kepercayaan. Yakin dan percaya akan
seruan Allah dan Rasul-Nya. Yakin dan percaya akan Janji-Janji Allah. Yang lain menyebut
”tidak ikhlas”, saya lebih memilih menyebut ”saking percayanya sama Allah lalu saya
melakukannya”. Yang lain menyebutnya ”tidak ikhlas”, saya lebih memilih menyebutnya
”berharap sama Allah”. Dan yang lain menyebutnya sebagai pamrih atas ibadah-ibadah yang
dilakukan karena dunia, saya lebih kepengen meyakininya sebagai sebuah keutamaan jalan
sebab yang memberikan petunjuk adalah Yang Memiliki Dunia yang juga menyuruh kita beribadah.


Selamat mengikuti esai-esai ini. Insya Allah besok masih saya cuplikkan bahagian dari buku
tersebut untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ”ikhlas atau tidak ketika kita
beribadah lalu berharap imbalan?”. Insya Allah besok saya akan naikkan esai yang
judulnya: ”Ibadah: Jalan Rizki Utama”. Tunggu dah besok ya. Waba’du, saya terus
mendorong kawan-kawan WebOnline untuk menyempurnakan BelanjaOnline agar peserta
langsung bisa mendapatkan buku aslinya. Ini bukan promosi, tapi sekalian nyuruh beli, he he he.

Untuk lebih lengkapnya silahkan download versi cetaknya :

KDW0118 Seri 18 dari 41 seri/esai


1 October 2009