17 October 2009

Betapa Jauhnya Kita Dari Allah

Ada banyak hal yang menyenangkan hati di kehidupan ini, dan ada juga yang tidak
menyenangkan. Tapi bagi seorang mukmin, semua keadaan akan menyenangkan hati.
Sebagaimana kita ridha menerima datangnya siang, kita kudu juga ridha menerima datangnya malam.


Sebagaimana kita senang menjalani kehidupan yang terang, kita kudu juga siap dengan datangnya
kegelapan. Betapapun ia sunnatullah di kehidupan ini. Satu hal yang harus kita yakini adalah di mana
pun situasi kita berada, ada Allah yang senantiasa menemani. Susah senang adanya di hati. Gelap
terang, bukan di mata. Barangkali, ikhlas menjalani hidup ini, pun merupakan pelajaran tauhid yang
senantiasa akan diperlukan sebagai bekal di kehidupan ini.
Saudara-saudaraku peserta kuliah online yang berbahagia, RINDU rasanya saya ketemu dengan
Saudara-saudara semua, salah satu partner terbaik saya dalam belajar tentang Allah, rasul-Nya, dan
kehidupan. Bulan-bulan terakhir ini, Allah memberikan keluarga kami hidangan-Nya. Sama saja
dengan siapapun di dunia ini, ada susah, ada senang. Dan saya kira semuanya adalah persoalan
penerimaan terhadap hidup ini. Kalau kita terima, maka semua keadaan akan baik-baik saja, akan
senang-senang saja.


Orang-orang yang punya hutang, misalnya, ketika ia kemudian menyadari bahwa ia tidak bisa bayar
hutang-hutangnya, ketakutan demi ketakutan akan menghantui kehidupannya. Takut dipenjara, takut
ketahuan sama keluarga, takut dilecehkan tetangga dan saudara-saudara, takut kehilangan muka, takut
merugikan orang lain (yang sebenernya sudah terjadi), dan takut sama kenyataan-kenyataan yang
sesungguhnya belum terjadi! Orang-orang ini takut sama bayang-bayangnya sendiri bahkan. Jadilah
kemudian mereka gelap di tengah dunia yang semestinya terang. Sendirian di saat dunia ini begitu
penuh dengan manusia. Kesepian di saat dunia ini ramai. Ga berani keluar rumah. Ga berani ketemu
orang. Ga berani menegakkan muka. Bahkan ga berani membuka mata! Inginnya kabur saja, bahkan
tidak jarang kepengennya mati saja.


Hidup lantas jadi cape, letih, lelah. Semakin dicari itu solusi, semakin membuahkan masalah-masalah
baru. Orang-orang yang gagal ini kebanyakan sebab gagal memikirkan Allah, tuhannya. Yang ia
pikirkan, nasibnya, nasibnya, nasibnya. Bukan memikirkan kelakuan-kelakuannya kepada Allah dan
rizki-Nya yang selama ini kita sudah tidak syukur kepada-Nya.
Dan saya melihat saya. Saya tidak mau demikian itu terjadi dalam hidup saya. Saya lebih memilih
ikhlas menjalani kesusahan, sebagai penerimaan rangkaian akibat dari kejauhan saya dari Allah.


Betul, saya yakinkan diri saya, alih-alih saya memikirkan solusi, lebih baik akhirnya saya memikirkan
Dia dan saya. Maksudnya, saya memikirkan bagaimana sih perjalanan kehidupan saya? Apakah ada
Allah di sana? Seberapa dekat dan seberapa jauhnya saya? Ternyata masya Allah, saya menangis.
Saya jauh dari Allah. Saya banyak lalainya hidup ini. Perjalanan saya sudah jauh melenceng dari
tujuan diciptakan-Nya saya; yaitu untuk beribadah kepada-Nya.


Perjalanan saya di kemudian hari ternyata – menurut saya -- perjalanan tauhid. Saya menyebutnya
perjalanan mencari Tuhan yang hilang. Hilang kemana? Hilang dari hati dan kehidupan. Perjalanan
mencari Tuhan yang hilang di hati ini. Tentu saja saya berupaya kembali memasukkan Allah di hati,
di pikiran, biar mewarnai gerak kehidupan. Semoga saya dan Anda semua, tidak kehilangan lagi Allah
di kehidupan ini. Maka senantiasa ada doa yang dibaca setiap habis shalat; Rabbanaa laa tuzigh
quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wa hablanaa mil ladunka rahmatan. Innaka antal wahhaab, ya
Allah, janganlah Engkau kembali menyesatkan kami setelah Engkau memberikan kami hidayah,
petunjuk. Dan karuniakanlah kami hidup yang penuh rahmat. Sesungguhnya Engkaulah Allah Yang
Maha Memberi Karunia, Maha Memberi Pengajaran.


Maka bolehlah saya menyebut, kegagalan manusia memperbaiki kehidupannya, atau
mengubah kehidupannya menjadi lebih baik lagi, adalah sebab imannya tidak dibenerin.
Tauhidnya tidak dibenerin. Amal ibadah memang barangkali dibangun, dikerjakan, tapi iman dan
tauhidnya ga ada. Akhirnya banyak yang malah kemudian mengeluh. Kenapa saya sudah bertobat,
koq tetap saja susah? Kenapa koq saya sudah kembali pada Allah, tapi kemudian masih saja sulit?


Dan pertanyaan-pertanyaan yang semakin menyesatkan diri kita dari Allah. Bukannya semakin ikhlas
menjalani hidup, malah kemudian bertambah sesak. Bukannya semakin menerima, malah kemudian
makin sengsara. Cukuplah Allah Penolongku, inilah kalimat yang semestinya disuarakan terus
menerus di hati kita. Ya Allah ampunilah saya, ini kalimat yang semestinya keluar dari lisan, hati
dan pikiran kita. Engkaulah Pengaturku ya Allah. Terserah Engkau mengatur apa, bikinlah hati
ini menjadi ikhlas karena-Mu. Begini mestinya. Akhirnya hati tidak beriak lagi. Adem. Ikhlas.
Allah berada di balik semua kejadian. Allah yang mengatur segalanya. Dengan ilmu seadanya, saya
mengubah haluan hidup. Dari yang tadinya mencari solusi, akhirnya gerak langkah dan pikiran
difokuskan untuk mencari Allah. Mencari-Nya dengan memperbaiki diri, memperbaiki ibadah,
membanyakkan amal saleh. Praktis saat itu, saat-saat di mana saya butuh pertolongan-Nya, saya tidak
melakukan serangkaian pencarian solusi lagi. Saya kembali kepada Allah saja. Yang lain bilang
bahwa saya tidak melakukan sesuatu untuk masalah saya, sedangkan saya menolak dikatakan
demikian. Inilah ikhtiar saya, setelah tidak ada lagi yang bisa saya lakukan. Dan semestinya inilah
yang sedari dulu saya lakukan, jangan mesti menunggu tidak ada lagi yang bisa saya lakukan. Sebab
inilah inti segala inti. Percuma mencari segala teori penyelesaian hidup, jika Yang Maha Segala tidak
menghendaki.


Untuk lebih lengkapnya silahkan download versi cetaknya
KDW0122 Seri 22 dari 41 seri/esai

9 komentar:

Post a Comment