14 October 2009

Sebuah Keutamaan

Ibadah adalah salah satu ikhtiar mendapatkan dunia.

Saya masih tertarik untuk membahas tentang “menempuh jalan ibadah sebagai sebuah
keutamaan”.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit orang yang menyalahkan orang lain yang
beribadah sebagai jalan ikhtiar mencari dunia-Nya Allah. Saya lebih menyebutnya sebagai
“sebuah keutamaan”.

Ya, mencari dunia dengan jalan beribadah adalah sebuah keutamaan.
Mengapa demikian?

Sebab bukankah mengikuti anjuran Allah dan Rasul-Nya adalah juga ibadah? Dunia
adalah milik Allah. Ketika Allah memerintahkan kita begini dan begitu ketika kita mencari
dunia milik-Nya, maka ini menjadi sebuah ibadah yang sangat hebat. Di samping tentu
menjadi sebuah wujud iman dan keyakinan kepada-Nya. Itu’kan sebutan betawinya nurut,
atau percaya.

Saudaraku, terhadap dokter saja, keyakinan kita bukan main hebatnya. Ketika seorang
dokter mengatakan, “Anda harus dioperasi segera... dalam hitungan 24 jam!” Wah, kita akan
terbirit-birit mengiyakan. Andai kita tidak ada uang pun kita akan mengusahakan setengah
mati, pinjam sana pinjam sini. Kalau perlu, kita tinggalkan rumah kita, kita korbankan
kendaraan kita untuk mendapatkan uang buat operasi.

Ada ahli desain interior. Dia berkunjung ke rumah kita. Lalu memberikan advisnya
tentang tata ruang yang lebih membuat sirkulasi udara rumah kita menjadi lebih bagus, maka
insya Allah kita akan mengubah tata letak rumah kita tersebut andai memang kita ada uang.
Atau malah jangan-jangan kepikiran terus untuk sesegera mungkin menjalankan advis sang
desainer interior tersebut.

Terhadap saran manusia, terhadap nasihat manusia, kita bak… bik… buk… memikirkan
dan mengikutinya. Mengapa terhadap nasihat Allah dan Rasul-Nya tidak kita ikuti? Apakah
karena kita tidak percaya kepada Allah dan Rasul-Nya? Atau jangan-jangan kita terjebak
kepada kesungkanan atau makna keikhlasan yang barangkali perlu dikoreksi? Sehingga
ibadah kita tidak bertenaga? Tidak memiliki spirit? Sebab bisa jadi bayang-bayang tidak
boleh beribadah karena meminta sesuatu dari Allah; entah itu dunia-Nya, berharap solusi
dari-Nya, menjadikan kita seperti setengah-setengah beribadah. Bukan karena penuh
pengharapan kepada-Nya, atas janji-janji-Nya sendiri.

Macam gini, Allah menyebut bahwa jalan tahajjud akan membuat hidup seseorang
berubah menjadi lebih baik lagi. Bila dilakukan terus-menerus akan membuat seseorang naik
terus derajat dan kemuliaannya. Lalu, ada seseorang yang melakukan tahajjud sebab percaya
akan firman-firman Allah dan hadits-hadits Rasul seputar tahajjud ini, dan kemudian
menyandarkan harapan hanya pada-Nya -sekali lagi, hanya pada-Nya-, apakah ini salah?
Lebih utama mana dengan yang tidak mengerjakannya? Atau lebih utama mana dengan yang
mengerjakannya tanpa berharap kepada-Nya? Apalagi kalau kita sepakat bahwa meminta
kepada Allah pun merupakan ibadah tersendiri? Tahajjud ya ibadah... dan meminta (do’a)
adalah juga ibadah. Maka bila seseorang melakukan tahajjud dan juga berdo’a kepada Allah,
bukankah dia malah dapat dua keutamaan?

Terus lagi, Rasul misal pernah bilang juga begini, “Kalau mau dibantu Allah, bantulah
sesama.” Lalu, seseorang yang menghendaki pertolongan Allah bergegas menyambut seruan
ini untuk benar-benar berharap turunnya pertolongan Allah baginya. Apakah ini salah? Tega
bener kalo salah mah.

Saudaraku, ayo! Beranilah meminta. Kalimat bahwa beribadah sama Allah, beribadah
saja, jangan minta-minta sama Allah, harus ikhlas, ini menurut saya perlu dilakukan lagi
penelitian mendalam. Kasihan orang yang butuh pertolongan Allah yang menempuh jalan
ibadah dan jalan-jalan yang diseru-Nya.

Mohon do’a agar Allah memberikan bimbingan kebenaran dari-Nya. Dan juga mohon
koreksi apabila ada pembaca yang lebih arif, lebih alim, dan lebih mengetahui tentang hal-hal
apa yang saya tulis. Andai ada kebenaran, datangnya dari Allah. Apabila ada kesalahan,
itulah saya, Yusuf Mansur, yang memang begitu banyak kekurangannya. Kepada Allah
semua kita kembalikan.

Untuk lebih lengkapnya silahkan download versi cetaknya





KDW0121 Seri 21 dari 41 seri/esai

9 komentar:

Post a Comment