29 July 2009

Tukeran Link

Salam hangat selalu buat sobat BLOGGER. Yang mau tukeran link Cukup copy text dalam area dan paste dalam blog anda, Saya akan segera linkback kembali. Untuk mengingatkan silahkan dicomment. Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terimakasih.

Catatan :

1. Untuk Link bisa lihat di FAVORITE LINK
2. Untuk Button bisa lihat di BUTTON LINK
3. Untuk Banner bisa lihat di BANER LINK




Nursani Ringtones





Nursani Ringtones











22 July 2009

Install Tema Expired

Biasanya tanggal handphone dirubah sehari sebelum tanggal aplikasi (gimana sih gak mudeng nih !) langkah pertama

coba cek tanggal aplikasinya caranya
option-detail, contoh tanggal aplikasi 23-05-08 nah tanggal handphone kamu rubah tanggalnya menjadi 22-05-08 reti ora son, trus install deh aplikasinya caranya hampir sama dengan tulisan saya yang pertama diatas noh.,.. he..he.. Kalau masih belum bisa juga, bener tuh temanya buat s60 v3 (beener bang) ya udah, sekarang cari application manager bukan file manager open-option-setting pastikan yang diatas settingannya ALL kalo masih SIGNY ONLY ganti bro trus yang bawah OFF kalo masih ON ganti dong bro masa diem aja sih cepetan sono, he..hee...( BERLAKU JUGA BUAT APLIKASI DAN GAME YANG SYMBIAN )

PAHAM!?????
PAHAM UST..
ALHAMDULILLAH.

19 July 2009

KDW0106 Seri 06 dari 41 seri/esai

Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi MOdul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Allah Tidak Pernah Meninggalkan Kita

Andai kita menebus segala kesalahan kita dengan dunia yang kita punya, lalu kita mendapati Allah di sisi kita, tentu ini adalah proses pendekatan diri
kepada Allah yang murah adanya.


Seorang bapak datang dalam keadaan bermasalah. Namun berbeda dengan yang lain. Ia datang dengan senyuman. Ia berbagi pengalaman, bahwa ia senang Allah bangkrutkan.

Saya sudah tahu kemana arahnya pembicaraan dia. Tapi saya biarkan.
“Kalau saya tidak dibangkrutkan Allah, saya sudah akan terlalu jauh dari Allah,” begitu katanya. “Sangat jauh malah. Saya banyak bermaksiat dengan
rizki dan jalan yang justru sesungguhnya diberikan oleh Allah,” katanya lagi.

Saya kemudian bertanya sedikit kepadanya, “Apa yang didapat setelah jauh dari Allah?” “Ketidaktenangan. Ketidaktahuan tujuan hidup. Dan yang lebih jelas lagi, dosa”. “Dosa?” “Ya, dosa.


Makin lama Allah biarkan saya dalam kekayaan, makin banyak rasanya dosa saya. Jangankan urusan yang nyata-nyata sebagai dosa. Urusan meninggalkan
shalat sunnah saja kan sebenernya dosa. Ngentengin sunnah. Begitu kan kata
Ustadz?” “Ya. Betul. Ngentengin sunnah juga merupakan dosa. Kalau terlalu
lama ninggalin sunnah, ya bermasalah juga jadinya. Apalagi kalau yang ditinggalkan itu adalah sunnah-sunnah muakkad; sunnah tahajjud, sunnah dhuha, sunnah qabliyah ba’diyah”. “Nah ustadz, saya bahkan mulai menyepelekan shalat wajib. Saya ngebayangin, betapa saya menzalimi Allah
yang sangat sayang kepada saya. Hingga saya bersyukur bahwa saya diberi-
Nya karunia kejatuhan ini”. Luar biasa. Sahabat saya ini sudah berhasil
menaruh baik sangkanya kepada Allah, dan berhasil memetik hikmahnya.

Di dalam program Ihyaa-us Sunnah (Program Menghidupkan Sunnah), yang juga akan menjadi program menarik semua peserta KuliahOnline untuk menebus dosa
(he he he), dan untuk mengangkat derajat, memang nyata-nyata dipelajari
bahwa di balik sunnah itu ada kejayaan. Hamba-hamba Allah memang banyak yang
sudah menyepelekan sunnah.
Pengertian sunnah masih: “Kalau dikerjakan mendapatkan pahala, kalau tidak dikerjakan, tidak mengapa”. Akhirnya, bener-bener tidak mengapa: “Cuma sunnah ini”, begitu kata

sebagian dari kita. Padahal, menjaga sunnah adalah sesuatu yang terpenting yang benarbenar berpengaruh kepada kualitas hidup kita. “Terus, apa yang terjadi?”, tanya saya lebih lanjut kepada beliau.

“Ya, namanya orang bangkrut, hidup saya penuh dengan masalah. Tapi semakin besar masalah saya, semakin saya bersyukur. Dalem sekali rasa syukur saya.
Saya anggap, beban masalah saya adalah pengurangan dosa saya. Semakin berat,
maka akan semakin besar pengurangannya. Saya ikhlas menjalani ini ustadz.
Ridha sekali. Daripada dipendem dikuburan yang mengerikan, ini saya terima.
Saya terima perlakuan dan intimidasi orang-orang yang uangnya di saya dan
saya tidak bisa mengembalikan. Saya terima cacian dan makian keluarga saya,
saya terima sikap tidak pedulinya kawan-kawan yang kadang menyakitkan
saya sebab saya begitu memperhatikan mereka. Saya terima semuanya.”
Bukan saya berbangga diri. Dia cerita bahwa buku Mencari Tuhan Yang Hilang, buku perdana saya, yang sudah lumayan membentuk kepribadian dia ini.
Alhamdulillah, katanya, buku tersebut banyak berisi persoalan-persoalan tauhid, iman, kepasrahan, tanggung jawab, amal saleh, dan lain-lain sebagai
bekal di soal kehidupan “Apa doa saudara setelah saudara dekat dengan Allah?”, pancing saya. “Saya berdoa, agar masalah saya jangan cepat selesai
kalau saya belum kuat imannya. Biar saja saya begini dulu.

Dunia ramai sekali di luar diri saya, tapi saya merasakan hebatnya bersepi-sepi dengan Allah”. “Terus, nasihat apa yang saudara harapkan dari saya?”
“Saya hanya pengen ketemu ustadz saja. Ga lebih”. Dia bicara banyak sekali.
Dan saya kira, kedatangannya justru nasihat untuk diri saya.
Semakin kaya, semestinya makin hebat shalat wajibnya, makin rajin shalat sunnahnya. Makin jaya, makin bersungguh-sungguh mendekatkan diri kepada Allah. Makin berterima kasih pada-Nya. Bukan sebaliknya.

Terlalu mahal tebusannya bila kita tergolong sebagai golongan orang-orang
yang melupakan Allah. Dia juga mengingatkan tentang diri saya sekian tahun
yang lalu. Ketika saya pompa diri ini,bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan saya. Allah tidak akan pernah mengabaikan saya.

Allah tidak akan pernah tidak mau menolong. Allah akan selalu menolong. Orang ini mengingatkan saya banget-banget, bahwa ketika Allah ada di
kehidupan kita, maka segalanya akan mengalir bahagia.
Biarlah Allah yang mengatur hidup kita. Biarlah. Hingga nanti saatnya datang, Allah akan mengulurkan pertolongan-Nya, dan mengangkat derajat kita.

Sementara itu, Allah mempersiapkan diri kita untuk menjadi individu yang lebih baik lagi yang lebih hebat lagi. Maka manakalah Allah sudah mengangkat
kembali hidup kita, insya Allah dengan izin-Nya, kita akan menjadi manusia-manusia yang banyak manfaatnya.

“Ustadz, sungguh, saya sedang menunggu takdir Allah terhadap diri saya. Saya belajar dari ustadz. Saya mau memahami bahwa eposide kehidupan saya belumlah
berakhir di sini. Masih panjang kan Ustadz…?”.

Saya selanjutnya membiarkan ia bicara. Kelihatan sekali sebenernya tatapan matanya hampir kosong. Namun iman di hatinya, dan secercah ilmu, sudah menjadi bara di tengah kehampaannya. Semoga ia kuat. Dan dia pasti kuat,
insya Allah. Allah teramat suka sama manusia-manusia yang percaya bahwa
diri-Nya pasti mengatur yang terbaik.

***

Apapun keadaan dan kejadiannya,
tetaplah baik sangka kepada-Nya.


Ketika bercerita tentang keyakinan kepada Allah, saya adalah termasuk orang-orang yang berusaha belajar meyakini bahwa Kekuasaan Allah itu ada,
Pertolongan Allah itu ada, dan keyakinan-keyakinan lain yang positif.
Saya males mengikuti bayangan buruk pikiran buruk. Sungguhpun kadang kejadiannya memaksa saya untuk berpikir buruk. Misalnya begini, saya punya
urusan, lalu urusan itu kelihatannya tidak selesai. Malah cenderung bertambah besar. Saya mah tetap saja maunya positif. Segera saja saya banting kepada pemikiran, “Ga apa-apa masalah bertambah besar, asal dosa saya semakin besar yang diampuni Allah. Ga apa-apa masalah bertambah besar,
asal rizki juga bertambah besar”.

Tapi kemampuan untuk meyakini Allah dan berpikir positif itu memang setelah mengalami sendiri pasang surut kehidupan, dan kemudian menerima pengajaran-
pengajaran tentang iman dan kasih sayang Allah dari orang-orang yang positif
memandang Allah dan kehidupan ini.
Ada seorang kawan yang tambang emasnya direbut orang. Bayang-bayang jatuh miskin, sudah di mata benar. Tambang emas yang baru saja diperpanjang hak
tambangnya, dan sudah ditanam investasi dari hasil hutangan baru, tiba-tiba
saja harus direlakan pindah tangan. Istilah-istilah hukum dan ekonomi modern, membuat dia harus melihat dengan telanjang aset dan perusahaannya
pindah tangan. Jadilah dia kemudian nestapa, merana, hidup penuh tekanan,
penuh hutang, sendiri, gelap, dan putus asa. Tapi, ups! Kata siapa?
Loh bukannya tertulis begitu? Jadilah dia kemudian nestapa, merana, hidup penuh tekanan, penuh hutang, sendiri, gelap, dan putus asa. Ya, tapi kan
yang nulis situ. Lah, bagaimana sih ini? Ya, situ yang bagaimana? Koq maen nulis sendiri kesimpulannya? Oh, belum selesai ya? Belum.
Yang benar, bagaimana? Mestinya, ia kemudian nestapa, merana, hidup penuh
tekanan, penuh hutang, sendiri, gelap, dan putus asa. Harus pakai “mestinya”. Sebab nyatanya dia tidak. Loh, sampeyan ini siapa? He he he.
Iseng saja. Biar nulisnya ga jenuh. Ini habis pulang dari rumah sakit. Saya rindu mengajar. Saya kudu ngajar besok pagi. Online. Lewat website
www.kuliahonline.wisatahati.com. Kalo lagi jenuh, lagi letih, kan “saya” suka muncul. Jadi, bagaimana dengan dia?

Pengusaha ini tetap tegar. Dia memang kehilangan banyak hal. Tapi dia belum kehilangan semangatnya. Dia belum kehilangan ilmunya. Dia belum kehilangan
buyer nya. Dia belum kehilangan keluarganya. Dan yang lebih penting, dia masih punya Allah dan Rasul-Nya. Itu yang membuatnya ga jadi merana dan ga
jadi nestapa. Subhaanallaah!

Tapi berkembang ga tambang emasnya?
Enggalah???!!!
Ya, engga. Sebab nyatanya emang susah.
Dia rontok. Asli rontok. Mana perempuan lagi.
Terus, jadi dong merana dan nestapanya?
Kenapa sih? Kayaknya kudu merana dan nestapa dulu ya untuk kemudian bangun, bangkit, dan jaya kembali?

Ya habis situ yang bilang dia akhirnya rontok. Terus mau kemana lagi dia?
Ke Allah. Dia terus aja maju ke Allah. Dia memilih ga mau percaya bahwa dia bener-bener habis. Dia terus saja berjalan.
Sekelilingnya menertawakan dia. Mencemooh dia, sebagai pengusaha yang gagal,
sekaligus sebagai ibu dan istri yang gagal. Ga kebayang dah kalo kita
yang menjadi dia. Hutang bank nya? Makin banyak. Dan tidak sedikit yang
sudah pindah tangan. Di sisi yang satu ini saja, dia menuai musuh-musuh baru
yang berasal dari keluarga. Beberapa aset yang disita adalah aset keluarganya yang dijadikan pinjaman. Weh, repot juga ya?
Engga tuh. Dia ga merasa repot. Wuah, itu mah namanya ga berperasaan.

Situ boleh menyebutnya ga berperasaan. Tapi dia memilih menyebutnya sebagai pasrah. Ga ada ikhtiarnya?

Nah ini bedanya. Pasrah itu pekerjaan hati. Sedang ikhtiar itu pekerjaan fisik. Dan otak barangkali.
Ia pasrah dalam kendali Allah. Tapi tidak pasrah dalam ikhtiar. Ia berdoa siang malam. Ia tetap berusaha mencari petunjuk sama Allah. Hingga kemudian
ketika tidak ada satu pun lembaga hukum yang bisa membantunya sebab katanya
kesalahan administrasi hukum dan ekonomi adalah kebodohannya saat itulah
pertolongan Allah datang. Ada satu peristiwa hukum dan ekonomi juga antara
dirinya dengan penguasa daerah dan pusat, yang menyebabkan rentetan juga
peristiwa hukum dan ekonomi yang berputar. Dengan kejadian itu, Allah
mengembalikan begitu saja asset yang sudah pernah diambil-Nya (kesejatian semua kejadian), lewat tangan orang lain. Bahkan hebatnya nih, asset itu
dikembalikan Allah dalam hitungan yang berlipat-lipat baik dalam hal asset,
permodalan, maupun hal-hal lainnya.
Barangkali ketika di tangan seterunya si pengusaha ini, sang seteru itu merasa sudah pasti asset perusahaan tambang emas itu jadi miliknya.
Jadi, ia kembangkan mati-matian. Nyatanya, malah balik lagi ke pemilik asli.

Bagaimana urusannya?
Klir. Rapih. Mereka-mereka yang sempat “mengadili”, menyaksikan kebesaran Allah. Betapa Kuasa-Nya bekerja di kehidupan orang-orang yang kuat mentalnya. Pengusaha yang sempat terjerembab ini sudah berhasil mempertahankan imannya. Ia bahkan terdorong lebih lagi menuju Allah.

Akhirnya apa? Akhirnya ia bangkit lagi.
Subhaanallaah ya?
Kamu ini, bukannya mikir. Malah saya yang mikir. Saya yang ngetik. Saya yang bercerita. Bukannya seharusnya Kamu?
Loh, tadi kan Kamu sendiri yang nyelang? Ya ga apa-apa toh? Kan sama saja. Situ kan saya
juga. Iya kan?
He he he. Iya juga.
Peserta KuliahOnline, bingung ya? Mudah-mudahan engga. Ini cara saya menulis. Kalau saya letih, saya punya kembaran, yang kembaran saya inilah yang saya biarkan maju. Bahkan ketika saya berceramah! Ga apa2, asal jangan “saya” dimunculkan pas nyetir saja! He he he. Bisa modar.

Yah, begitu dah. Allah mempersiapkan kenaikan derajat pengusaha ini pada porsi-Nya. Tidak ada training yang lebih hebat daripada training kehidupan
di mana Allah bertindak langsung menjadi Grand-Master Trainernya.
Subhaanallaah! Maha Suci Allah yang tidak pernah salah dalam mengendalikan,
menentukan, dan mengatur sesuatu. Termasuk tentang kehidupan ini.

Saudara-saudaraku semua. Mestinya, besok, Sabtu tanggal 30 Agutus 2008 sore, kita berkumpul di Sekolah Daarul Qur’an Internasional. Semoga Allah menerangkan benderangkan langit, tapi dalam kesejukan. Memberi Saudara semua
rizki-Nya sehingga Saudara bisa datang berkumpul, untuk sama-sama belajar,
berbagi dan bersaudara.

Subhaanallaah, inilah kumpul-kumpul pertama antar-pengguna web www.wisatahati.com, sejak nama website ini ada di kepala saya ketika saya
berada di dalam tahanan kepolisian di tahun 1999! Saat itu saya kepengen
berpikir untuk duluan memesan nama web ini, sebab entah mengapa nama wisatahati kuat sekali ada di pikiran saya saat di penjara itu.

Insya Allah bagi yang datang, saya akan bercerita tentang latar belakang Wisatahati sedikit ya? Insya Allah. Ok, sampe ketemu.
Insya Allah mulai hari-hari selanjutnya, kita masih akan belajar tauhid.
Tapi sudah mulai menukik ke urusan ibadah keseharian. Insya Allah. Yah, dua
tiga hari dah. Mudah-mudahan yang sabar ya belajarnya. Ajak-ajak juga saudara-saudara dan kawan-kawan yang memiliki kemudahan akses internet untuk
sama-sama mendaftarkan dirinya di KuliahOnline.

Jangan lupa, sebar luaskan ilmu yang didapat ini.
Loh, katanya udah “Ok, sampe ketemu”? koq masih terus nulis?
Iya, iya. Ini juga udah ada tamu. Di depan rumah. Dari kawan-kawan PPPA (Program Pembibitan Penghafal al Qur’an).

Padahal masih pengen nulis ya?
Iya. Ya sudah, nulis saja terus. Ga apa-apa, tamu mah suruh nunggu juga, nunggu. He he he. Jangan. Nanti malah ga hormat sama tamu. Kalo ga hormat sama tamu, kata Rasul, ga beriman.
Tapi kalo tamunya namunya gini hari? Malem-malem?
Tamu nya udah bilang koq.
Oh, kalo ga bilang, ga dilayanin?
Ya dilayanin juga. Asal bener-bener sehat, dan bener-bener lega nafasnya. Sebab kadang ga ada jeda buat nafas saking padatnya jadwal ngajar, tabligh
dan syiar.

Tuh kan, panjang lagi?
Lah, situ kan yang mula-mulain.
Iya, iya. Sudah. Silahkan shut-down komputernya, dan temui dulu tetamunya.
Makasih ya.
Saudara-saudaraku, peserta KuliahOnline, sampe ketemu ya di Sekolah Daarul Qur’an Internasional, di Kampung ketapang, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Cipondoh. Mudahmudahan ga pada nyasar. Iya.
Loh…??? Nyahut lagi…???
He he he. Maka nya, udah buruan shut-down dah yaaaa….

15 July 2009

PES 2009

Nursani Ringtones

Compatible with Nokia and Sony Ericsson Ukuran layar 240x320

Yang hobi bola dowload PES 2009

14 July 2009

Daarul Qur’an dan PPPA punya visi misi mencetak 100rb penghafal al Qur’an

Penjualan Saham Travel Haji Umrah al Amin Mulia Lestari;
Dengan 10jt dah bisa punya biro travel haji dan umrah

Assalamualaikum Wr.Wb.

izinkan saya mengumumkan satu hal: Saudara mulai pertengahan Juli 2009 sudah bisa
menjadi pemilik Travel Haji Umrah al Amin Mulia Lestari. Amin, insya Allah.
Daarul Qur’an dan PPPA punya visi misi mencetak 100rb penghafal al Qur’an sampai
dengan tahun 2015 dan mengembangkan 1000 Pesantren Gratis (kini model pesantren
gratisnya berwujud “Rumah Tahfidz”). Juga membangun Pesantren Internasional (wakaf)
yang hasil operasionalnya dikembalikan lagi untuk program pembibitan penghafal al Qur’an.


Untuk menuju visi misi tersebut, ada beberapa hal yang dilakukan. Di antaranya menarget penjualan 1 juta DVD Majelis Dhuha Nasional, di mana seluruh hasil bersihnya
untuk visi misi tersebut. DVD MDN edisi pertama berjumlah 16 seri. Jadi, untuk mencapai penjualan 1 juta DVD MDN, cukup mencari 60rb pembeli saja.

Insya Allah dah tercapai. Dengan harga jual per DVD 25rb rupiah, Insya Allah bisa mencapai 25 milyar rupiah. Besar ya? Masih kecil tuh, he he he. Tentu saja bila terkait dengan visi misi yang besar tadi. Kami coba jalur usaha, jalur perdagangan.

Selama ini kami sudah masuk ke usaha penerbitan dan pencetakan buku.
Termasuk bekerjasama dengan penerbit-penerbit besar di Indonesia ini.
Juga bekerjasama dengan produsen kaset, CD dan DVD, untuk rilis produk kaset, CD dan DVD. Hasilnya alhamdulillah mengalir ke pesantren dan program di atas.
Kami senang bukan hanya bisa menyeru sedekah, namun juga turut bersisian bersedekah
dengan para donatur dengan cara tersebut. Ustadz bisnis ya? Ya biar saja.
Memang dakwah itu perlu bisnis. Supaya ga ngandelin donasi dari jamaah melulu.
Hasil dari bisnis itu untuk mensupport dakwah.

Tentang DVD MDN, ada orang yang bicara: “Itu kan DVD mestinya dibagiin gratis? Koq
dijual? Jualan ilmu dong?”. Please deh, coba buka mata dikit. Sebagai sebuah cara,
adalah halal melakukan jual beli. Yang kita jual adalah packagingnya, kemasannya.
Kontennya mah jelas tidak. Buktinya, DVD MDN tersebut kita upload di website
www.wisatahati.com supaya bisa didownload gratis. Kami pun menyetelnya di TV-TV lokal, dengan biaya dari kami, dan DVD-DVD itu diputar bebas.

Lalu mengapa DVD nya tetap dijual padahal bisa didonwload gratis dan bisa dinikmati gratis juga dari TV-TV lokal dan web streaming? Ya, sebab ga semuanya sempet ngedownload dan bisa ngedownload. Ga semuanya juga sempet melihat tayangan
TV-TV lokal yang memutar DVD MDN.

Terhadap yang engga inilah kami menyasar target pembeli. Kemudahan, itu yang kami tawarkan. Kalo ga bisa ngedownload, atau kurang nyaman, atau ga sempet ngeliat TV lokal, ya pesen aja DVD originalnya. Tinggal pesen, bayar, kami kirim dah.

Begitu. Itu pun, di dalam DVD nya, kami cantumkan pengumuman, bahwa sesiapa yang
mau mengkopi dan menggandakan DVD tersebut ga perlu izin lagi. Sambil kami menyeru
supaya DVD original dibeli, sebab dana nya buat pengembangan dakwah. Yah, inilah
namanya ikhtiar. Kami mah lebih suka begitu daripada menebar proposal dan surat
sumbangan. Ikhtiar lainnya dalam pendanaan visi misi 100rb penghafal al Qur’an di 2015 dan 1000 Rumah Tahfidz Gratis adalah menjual saham travel haji dan umrah al Amin Mulia Lestari.

Travel Haji dan Umrah al Amin Mulia Lestari, atau yang dikenal dengan nama Travel
Wisatahati, mau dijual ke jamaah semua. Dibandrol Rp. 15M (lima belas milyar rupiah).
Mudah-mudahan bisa bersama-sama membesarkan travel ini dan juga membesarkan
manfaatnya. Rp. 15 Milyar ini dibagi dalam 1500 lembar saham @10jt. Di pekan awal Juli, draft notarial penjualan saham Travel Haji Umrah al Amin Mulia Lestari,
sedang disiapkan notaris. Mudah-mudahan pertengahan Juli nanti, sudah selesai, dan segera bisa diumumkan kepada jamaah.

Jangan berpikiran terlalu jauh membayangkan seperti saya sedang jual saham ala
bursa efek atau pialang saham. Terlalu jauh. Ini mah semacam saya mengajak
patungan kepada jamaah semua untuk sama-sama memiliki perusahaan ini dengan
amal usaha yang mulia; biro perjalanan haji dan umrah.
Jelas kita tidak boleh membisniskan haji dan umrah. Namun sekali lagi, insya Allah menjadi halal kita menjual kemasannya;tiketingnya, akomodasi hotel dan transportasi di sananya, dan lain-lain kelengkapannya.

Bahkan al Qur’an pun membolehkan kita berniaga. Berniaga bukan saja menjadi halal,
tapi juga disyariatkan dan menjadi ibadah. Masa transaksi besar
dan kesempatan amal usaha besar yang timbul akibat prosesi ibadah seorang muslim.
sebagai muslim, lalu diambil oleh ummat lain? Kita-kita ini ya begitu. Kita yang merayakan maulid, maaf ya, yang jualan teh botolnya siapa?
Kita sewa tenda dan kursi-kursi dari siapa? Lebih sering dinikmati oleh non muslim.
Padahal harusnya dari kita, oleh kita, dan untuk kita.
Bulan Suci Ramadhan, yang menangguk trilyunan rupiah, siapa? Kita-kita yang muslim ini, hanya sebatas pengkonsumsi.
Jarang yang mengambil posisi pedagang. Padahal Rasulullah sendiri adalah pedagang.

Bahkan dalam satu rangkaian firman Allah tentang manasik haji, dari ayat ke 196 surah al Baqarah sampai ayat 203,terselip di ayat 198-nya:
“... Laisa ‘alaikum junaahun an tabtaghuu fadhlam mir robbikum...
Tidak ada dosa bagi kamu untuk mencari karunia (rizki dari hasil perniagaan) dari Tuhanmu...”.
Ya, Allah membolehkan, mengizinkan semua yang berhaji
bahkan berdagang. Sebab di saat haji itu, bertemu muslimin muslimat dari seluruh penjuru dunia.
Kesempatan emas untuk berdagang. Berdagang itu ibadah. Ini yang musti juga
disosialisasikan.
Travel Haji Umrah Wisatahati ini mau dijual seharga 15 milyar. Tanpa aset?
Ya, tanpa aset. Asetnya ya izin usahanya dan value nya. Mahal banget?

Tergantung darimana mandangnya. Di sini ada Yusuf Mansurnya, he he he. Maaf ya,
bercanda. Ke depan tentu saja ga boleh lagi travel ini berlindung di balik nama rapuhnya Yusuf Mansur. Siapa juga saya, he he he.

Setahun yang lalu, saya men-take-over travel ini dari tangan sahabat saya sebesar hampir 1M.
Set-up dan lain-lain, sekitar 500jt. Bahkan di awal dikembangkan bisnis ini, 800 juta
digelontorkan sebagai sedekah dalam bentuk memberangkatkan puluhan orang gratis.
Alhamdulillah. Semata-mata supaya travel ini berjalan lancar dan bisa memberikan subsidi silang yang banyak buat pesantren dan sayap-sayap program PPPA.
Dan saat itu juga, saya langsung meniatkan travel ini sebagai travel sedekah.
Travel yang seluruh hasilnya untuk sedekah membangun dan mengembangkan Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an. Ga tau tuh. Saya demen aja begini. Berdiri di atas prinsip dasar wakaf dan sedekah.

Hampir semua usaha dibangun di atas prinsip ini. Saya punya PH. Pun hasilnya disedekahin. Kontrak-kontrak TV, disedekahin. Royalti buku, CD, DVD, disedekahin.

Bisnis penyewaan mobil, disedekahin hasilnya.Malah belakangan mobilnya disedekahin, ha ha ha.
Bangun sekolah mahal, hasilnya sepenuhnya buat sedekah kepada Program Pembibitan Penghafal al Qur’an. Dan lain-lain. Demen aja menyedekahkan apa saja.
Mudah-mudahan ini sebagai targhib. Bukan memperdengarkan amal.

Terakhir, DVD MDN yang ditarget bisa laku 1jt keping pun, dari awal, disedekahin.
Ga maen-maen loh, kalau betul terealisir tuh penjualan, bisa mencapai 25M.
Yo wis, biar saja. Ukuran kantong kita mah kan kecil aja. Perut pun segitu-gitunya aja. Yang penting cukup aja, lebihnya disedekahin.
Toh buat saya dan keluarga, cukupnya kami, mestinya lebihnya orang-orang.
Jadi, memilih jalan sedekah bukan sesuatu yang berat lagi. Alhamdulillah.
Apalagi saya berpikir, kalau tidak ada jamaah (secara manusianya), manalah saya punya ini dan itu. Jadi, kalau kemudian saya memilih jalan menyedekahkan kembali,
saya rasa bukan sesuatu yang istimewa.

Ya, saudara-saudara semua, travel ini saya beli, dan saya sedekahin. Supaya hasilnya bisa dipake buat membangun dan mengembangkan Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an dan sedekah ke PPPA.

Kalo ada yang bilang, koq sedekahnya ke grup sendiri? Ke PPPA melulu? Saya
menjawab, engga ah. Engga ke grup sendiri aja. Wong PPPA kan udah menasional.
Pesantren yang saya ga kenal kyai nya pun, trmasuk santri-santrinya, bila termasuk target PPPA ya akan menerima sedekah ini. Donasi sedekah untuk mencetak para haafidz.
Itu visi misinya.
Setelah hampir setahun saya berancang-ancang menjual ulang travel ini, akhirnya menjadi kenyataan.

1500 Marketing Travel

Ya. Travel ini saya bandrol 15M. Selain untuk mendukung visi misi 100rb penghafal al
Qur’an 2015 dan 1000 Rumah Tahfidz, uang ini sepenuhnya masih untuk pengembangan
pesantren. Agar segera terwujud Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an. Saya membayangkan
akan ada aliran dana segar 15 milyar untuk visi misi ini. Alhamdulillah.
Ga ada yang buat modal operasional dong? Emang udah ga perlu lagi. Operasional bisa dari uang pendaftaran haji dan umrah yang berputar di situ-situ saja.
Bisa mandiri. Sebagaimana disebut di atas, 15 milyar ini dilepas dalam bentuk 1500 lembar saham, @10jt (sepuluh juta). Satu jamaah bisa memiliki lebih dari 1 saham.
Barangkali buat keluarganya atau perusahaannya, atau majelis ta’lim dan atau lembaganya.

Besar juga harapan saya, mudah-mudahan di antara jamaah yang membeli saham ini,
menyedekahkan kembali hasilnya untuk PPPA. Jadi dah tuh sedekah bergulir. Yakni sedekah yang diputar dulu untuk bisnis dan amal usaha.
Tapi ga disedekahin juga ga apa-apa, sebab hasil penjualan saham sepenuhnya sudah buat sedekah.

Tahun 2010, insya Allah travel ini menarget pertumbuhan jamaah umrah 400-800 orang per bulannya. Ini bukan sesuatu yang sulit dicapai. Dengan jumlah simpul MDN dan perwakilan Wisatahati dan PPPA sendiri, jumlah ini adalah sebuah keniscayaan.
Insya Allah. Malah, dalam kurun waktu tertentu, saya menarget memberangkatkan 1500 orang peserta umrah per bulan.

Ada orang yang bertanya, kalaunya Ustadz Yusuf ga berangkat, apa bisa mencapai jumlah
sebesar itu? Insya Allah. Yakin aja. Kalau profesional, masa iya engga? Sekalipun saya ga berangkat, insya Allah akan disetting semalam di Pesantren Daarul Qur’an
yang eksotik. Dengan tenda-tenda Arafahnya, Insya Allah ada kebersamaan bersama saya,
meskipun saya ga berangkat.
Tapi saya demen jalan umrah. Insya Allah saya banyak berangkatnya.
Baik, ini perhitungan kasarnya. Jika bisa memberangkatkan jamaah 400 s/d 800 orang umrah setiap bulannya, maka akan ada keuntungan yang dibagi kepada jamaah sekitar
600jt s/d 1,2M. Jumlah yang besar sekali. Apalagi jika mau berbagi lagi dengan pesantren dan PPPA, he he he. Kami akan bagi lagi kepada pesantren-pesantren
binaan dan para huffadz binaan. Wuah, berkah dah.

Kita gulirkan lagi rupiah demi rupiah keuntungan itu untuk sedekah bergulir lagi dalam bentuk sedekah modal usaha. Wuah, akan semakin cakep dah. Amin, insya Allah.

Rasanya, target bagi hasil keuntungan ke 1500 pemegang saham, dengan masing-masing
menerima 200rb s/d 500rb atau bahkan 1jt, bukannya mimpi. Insya Allah lebih besar dari sekedar naroh di bank aja mah. 10 juta rupiah per lembar saham, hasilnya seabrek-abrek.

Cafe De Surau, Bali

Saya pernah bercerita kepada beberapa kawan dekat, saya punya saham juga di Cafe De
Surau. Di Bali. Insya Allah lagi-lagi saham ini pun hasilnya disedekahkan untuk pergerakan dakwah di Bali. Pendirian Cafe ini unique. Sebab didirikan oleh tidak kurang 30 orangan. Sekarang udah bertambah lagi. Dulu, masing-masing 25jt s/d 40jt per orang. Yang menarik adalah, jika 30 orang itu aktif mendatangkan tamu, atau datang kerabatnya, saudaranya, kawannya, kenalannya, ke Bali, dan bisa dibelokkan sebentar ke Cafe bersama ini, maka insya Allah Cafe ini tidak akan pernah sepi.

Dan memang demikianlah kenyataannya. Saban hari dan khususnya di Weekend, ramai pengunjung. Ya relasi kami-kami saja para pemegang sahamnya. Dari mulut ke mulut.
Sekarang bahkan kami sudah ada Ballroomnya, istilah kerennya aula serba guna.
Untuk pelatihan-pelatihan, seminar-seminar, pengajian-pengajian, dan pertemuan-pertemuan. Memuat kurang lebih 150-200 orangan.
Nah, cara kerja ini sangat bisa banget diterapkan di Travel ini.
Sebagian saudara ada yang berpikir, wuah si ustadz yusuf mansur ini bisnis banget sih? Ah, saya mah ga peduli. Sekarang mah tinggal hasilnya yang bagaimana dan digimanakan? Juga usahanya. Jika halal, kenapa engga?

Memangnya lebih suka ya melihat ustadz-ustadz meminta minta? Yang penting jangan lupa juga belajar terus, mengaji lagi dengan yang lebih senior, maka bisnis harus jalan dan dijalankan. Udah gitu, hasilnya buat siapa? Kalau buat memperkaya diri, ya semua bisnis ga boleh. Tapi kalau nawaitunya untuk banyak orang, mudah-mudahan ada keridhaan Allah. Setuju ga? Engga ya? Ya terserah, he he he.



Bayangkan ya oleh saudara. Jika saudara adalah bahagian dari 1500 orang pemegang saham ini, apa yang ada di benak saudara semua? Saya mah membayangkan akan ada 1500 Marketer buat travel kita ini! Luar biasa kan? Jika 1500 orang ini aktif mempromosikan travel ini, lalu setiap orang berkontribusi memasukkan peserta umrah 1 orang saja sebulannya, maka sudah 1500 orang jamaah umrah yang akan berangkat setiap bulannya! Amazing kan? Jika 100 dolar per pax, maka akan ada 1500 x 100USD keuntungan
per bulannya. Ini kan berarti 150.000USD keuntungan per bulan, atau senilai Rp. 1,5M
perbulannya. Kalau efisien kerjanya, bisa mencapai 2,25M malah, atau 150USD per pax nya. Dengan hitungan ini, bagi hasil ke 1500 jamaahnya akan sebesar Rp. 1,5jt per bulan. Subhaanallaah kan? Naroh 10jt sebagai saham, bagi hasilnya Rp. 1,5jt. Tentu saja target ini akan mudah bila bersama-sama. Penanganan umrahnya pun tidak sesulit yang dibayangkan. Semuanya konsorsium; spirit kebersamaan dan bersama-sama dan ukhuwah, menjadi pilar kesuksesan menyelenggarakan travel dengan jamaah besar.
Karenanya saya pun mendorong travel-travel lain yang tidak memiliki value berupa
network dan community untuk memiliki pula sahamnya di travel al Amin Mulia Lestari ini. Segitu tuh sedekahnya kita. Masya Allah kan.

Saya bicara ke kyai Kosasih, pimpinan travel ini, “Insya Allah nawaitu kita akan
menyelamatkan. Teken kontrak dagang aja, bahwa hasilnya disedekahin semua. Kami-kami
mah sebagai pekerja professional saja yang mewujudkan target ini”.
Loh ko sedekah? Ya, sedekah dari kami. Penjualan dan pembelian travel senilai 15M kan
sepenuhnya masuk kantong pesantren dan PPPA, begitu. Akan halnya dengan pemegang
saham, jika hasil bulanannya nanti mau disedekahin lagi, ya alhamdulillah.
***
Jatah 900-an tiket umrah gratis setiap tahunnya Alhamdulillah. Mengelola travel umrah ini berkah loh.Setiap 20 tiket, jatah 1 tiket. Bila target ditetapkan 400
lah minimal jamaah umrah setiap bulannya, maka akan ada jatah memberangkatkan 20 orang, atau 240 orang setahunnya. Tentu saja jumlah ini harus dihitung ulang lagi
dengan cermat, mengingat ada masa-masa haji yang tertutup untuk visa umrah.
Ok, jika jumlah pemegang saham sebanyak 1500 orang, apalagi yang kebayang oleh saudara? Yang kebayang oleh saya, maka dalam waktu 6 tahun, semua pemegang saham, akan bisa diberangkatkan! Kita undi setiap tahunnya 240 jatah umrah, maka insya Allah
dalam 6 tahun 1500 pemegang saham akan berangkat semua dah. Nanti, yang udah dapat di tahun pertama, udah ga diikutsertakan lagi di undian tahun ke-2, dan seterusnya.
Jadi, semuanya bisa kebagian. Itu kalo 400. Kalo 1500 per bulan?

Kalo 1500 jamaah umrah per bulan, berarti ada 75 tiket gratis, atau 900 tiket gratis
setahunnya. Itu artinya, dalam 1,5 tahun, seluruh pemegang saham akan sudah
diberangkatkan gratis dengan sahamnya sendiri. Koq ya kelihatannya mudah ya?
Ya memang mudah. Apanya yang sulit? Tinggal sama-sama mewujudkannya saja.
10jt per saham. Ayo dah. Anggap saja keberangkatan umrah yang tertunda. Maksudnya, jika punya uang Rp. 10jt untuk berangkat umrah, bismillah dah, coba aja nawaitunya sedekah. Sedekah dengan cara membeli saham travel ini. Mudah-mudahan ada hasilnya yang bisa kemudian membawa diri sendiri dan keluarga berumrah. Jika ada bagi hasil bulanannya, sedekahin aja terus. Sehingga berlipat dan berlipat tuh investasi sedekahnya. Jika besar investasinya, kan besar pula hasil dan kebaikan manfaatnya.
Apa engga mimpi tuh angka-angka itu? Engga. Makanya, mari wujudkan saja.

Kawan-kawan dan saudara-saudara yang mau memfollowupi info ini, bisa kontak
Ustadz Hendy: 081519003181. Wuah, bisaan ya? Jualan di DhuhaaCoffee?
Ya, biar saja. Sekalian, he he he. Good marketer kan? He he he.

Hal baik, kenapa ga diinfokan terang-terangan. Iya kan? Info itu kan sedekah juga. Sedekah info. Maka sebagai sedekah, ada info yang disampaikan sembunyi-sembunyi,
ada info yang disampaikan terang-terangan. Saya berdoa, jika ini terealisir,
maka saya mudah-mudahan dapat pahal sedekah 15M dan sedekah dari perguliran amal
usaha yang penuh kebaikan ini. Di antaranya pahala dari kebaikan 900 tiket umrah gratis; baik dikembalikan kepada pemegang saham, disedekahin ke penghafal al Qur’an
dan pengasuh-pengasuh ponpes tahfidz, dan atau dijual kembali untuk dibagikan
atau disedekahkan uangnya saja. Saya pun berdoa semoga semua yang terlibat di penjualan sahamnya, hingga kemudian pengelolaannya, dapat juga pahala yang sama banyaknya. Amin.

Sekarang bayangkan lagi. Jika jatah 900 tiket umrah itu, kita sedekahkan untuk guru-guru ngaji? Untuk para haafidz (seperti yang baru-baru ini dijalankan;
memberangkatkan penghafal-penghafal al Qur’an)? Kan subhaanallaah tuh.
Selama ini, para haafidz itu berburu tiket ke tanah suci, dari MTQ.
Itu pun kalo menang di tingkat Propinsi dan Nasional. Kalo masih di tingkat kecamatan dan walikota, ngimpi dah hadiahnya haji.

Bayangkan juga jika 900 tiket umrah tersebut itu diuangkan saja, alias dijual saja ke pasar? Masya Allah, berapa yang bisa kita sedekahkan ulang,di luar bagi hasilnya? Taro kata 15jt,maka itu jumlahnya Rp. 13,5 Milyar loh setahun! Fantastis kan? Subhaanallaah.


***
Punya pesawat dan hotel sendiri di Mekkah dan Madinah!

Ada yang bilang, 1500 peserta umrah setiap bulannya? Walah, pengorganisasiannya
keberangkatan bertubuh besar, ribet, susah. Ga gampang. Wuah, itu mah namanya ga mau naro mimpi, ga mau ngejar mimpi, dan ga mau usaha.

Masa hanya travel-travel non-muslim saja yang besar-besar sih? Atau travel-travel non
Mekkah Madinah saja sih yang besar-besar? Kita juga dong boleh punya mimpi kayak gitu. Malah nih, kalau 1500 pemegang saham itu aktif, dan mendorong pertumbuhan ONE stakeholder ONE customer (1 pemegang saham 1 peserta umrah), rasanya bukan ga mungkin kita punya pesawat sendiri, he he he. Serius loh. Kalaunya kita rutin memberangkat 1500 jamaah setiap bulannya, mending nego sama yang punya pesawat
(Garuda, LION, atau Saudi Arabia Airlines), bahwa kita sewa aja dah.
Mau dimerekin sendiri, ha ha ha. Lah, kalau berangkat orangnya kita-kita doang mah,
ya kita kerjasama operasi saja dengan maskapainya. Insya Allah saya dah yang jadi pilotnya! Hi hi hi.
Eh, beneran loh. Meski kesannya bercanda, ini asli beneran. Saya taro mimpi ini, dan saya kejar. Kejarnya lewat doa, shalat malam, dan silaturahim-silaturahim dengan para pemimpi lainnya. Insya Allah saya ga sendirian.


Sekali lagi, asal nawaitu dijaga. Untuk ummat ya untuk ummat. Kami-kami mah, jadi orang gajiannya travel ini saja. Insya Allah.Ga apa-apa, asal digaji besar, he he he.

Akan halnya hotel di Mekkah dan Madinah, insya Allah bukan hal sulit juga. Beberapa orang kaya dan travel di tanah air, sudah ada yang memiliki kamar-kamar hotel sendiri. Sehingga mereka ga nyewa dadakan lagi. Kalaunya kita sewa setahun pun,
itu sudah sama saja dengan punya hotel di sana. Subhaanallaah,mudah-mudahan jadi kenyataan. Sesuai dengan yang sudah disinggung di atas, penyelenggaraan travel
berjumlah peserta besar ini memang mau ga mau ya konsorsium sesama travel
dan operator umrah di Saudi. Bismillah dah. Walhamdulillah.
Pemberangkatannya pun tentu saja kita aturkan supaya per kelompok, per grup.
Sehingga pengelolaannya tetap mudah. Dan pesantren Daarul Qur’an pun hidup.
Sebab nanti kita bikin Camp-Umrah untuk semua peserta yang mau berangkat umrah.
Sekarang saja sudah sangat memadai bila diselenggarakan manasik di Pesantren.
Ada tenda-tenda Arafah dan suasananya nyaman, adem, dan eksotik.
Sebelum berangkat umrah, peserta semuanya masuk pesantren dulu.
Nyantren sehari semalam bersama saya. Insya Allah ada kebersamaan. Amin.

***

Bukan mimpi!

Saudara-saudaraku, apa yang saya goretkan di atas, benar-benar bukan mimpi. Kita-kitanya saja yang ga berani bermimpi. Saat ini saja alhamdulillah saya sudah punya rumah sendiri di al Khalidiyah. Di Mekkah! Kebayang ga sih sebelumnya? Boro-boro. Ngelihat bentuk pintunya saja sebelumnya engga pernah. Atau membayangkan
kayak apa sih rumah-rumah orang arab dalemnya? Ga pernah. Aseli. Tapi karunia Allah demikian besarnya. Tanpa terasa, di Juni 2008 lalu, saya akhirnya punya rumah sendiri, bi-idznillah. Barangkali secara testimonial sedekah, inilah mudah-mudahan balasan Allah terhadap saya dan istri yang menyedekahkan rumah kami satu-satunya di tanah air. Allah hadiahkan kemudian rumah di Tanah Suci! Subhaanallaah, subhaanallaah, subhaanallaah! Walhamdulillah.

Apalagi denger-denger, wilayah ini bukan wilayah sembarangan. Wilayah ini adalah salah satu wilayah elitnya Mekkah. Ga sembarangan orang bisa masuk di sini.
Bahkan muqimien yang sudah belasan tahun pun beloman tentu. Entahlah, wallaahu a’lam.

Rumah ini kemudian saya jadikan rumahnya muslim Indonesia yang ke tanah suci. Ga
dikhususkan buat jamaah travel saya saja. Lah, kalau rumah sudah, maka rasanya ga apa-apa kali mimpi bisa punya hotel sendiri...
Insya Allah. Sekali lagi, niat, niat, niat. Niatnya pegimana? Kalau untuk membesarkan asma-Nya, insya Allah akan ada dukungan dari Allah. Amin.

Okke dah. Rasanya, sudah cukup. Mari kita masuk ke materi ya.
Sekali lagi, jika ada yang kepengen memfollow-upi informasi ini, silahkan kontak
Ustadz Hendy (SMS): 081519003181. 1500 saham akan ditawarkan ke muslimin tanah air.
Mudah-mudahan habis dalam waktu 1 bulan di Bulan Juli 2009 ini.
Supaya bisa mewujudkan hitung-hitungan di atas. Amin.

***

Network Based dan Community Based

Ada hal menarik. Saham travel ini saya mulai tawarkan di perjalanan kepada beberapa
jamaah. Alhamdulillah, saham travel ini langsung direspon. Semangatnya bukan semangat
bisnis saja (artinya, tetap boleh dengan semangat bisnis). Tapi semangat kebersamaan dalam mencapai visi misi 100rb Penghafal Al Qur’an 2015 dan 1000 Rumah Tahfidz gratis. Ada Haji Aidil Fikri dari Palembang yang langsung bilang akan beli banyak.
Saya bilang, sementara dibatasi 1 orang 1 saham saja, atau paling banyak 10 saham.
Bukannya apa-apa, saya kepengen travel ini dibangun dan dikembangkan di atas prinsip jamaah atau ukhuwwah. Bahasa kerennya berbasis jaringan jamaah. Kalonya 1500 saham ini dikuasai oleh 15 orang saja, masing-masing memiliki 100 saham, wah, bisa-bisa tidak tercapai gagasan dan mimpi di atas. Kalo 15 pemegang saham tadi merekomendasikan masing-masing 1 peserta umrah, maka hanya 15 orang saja tiap bulan jamaah umrahnya. Ga lucu, he he he.
Idealnya, 1500 saham ini dimiliki oleh 1500 pemegang saham juga. Atau bolehlah dibatasi 5-10 saja paling banyaknya. Itu pun sebisa mungkin 5-10 lembar saham itu dipegang oleh saudara-saudaranya supaya bisa aktif sebagai marketing travel ini.

Demikian. Alhamdulillah atas responnya. Saya pun dapat berita dari Jakarta,
dalam 1-2 hari ini, dari facebook dan sms, sudah mulai ada peminat.
Alhamdulillah. Mudah-mudahan bisa rapih terfollow-up. Amin.
Ok, makasih ya. Saya selipkan PENAWARAN ini sebagai BONUS TULISAN
DhuhaaCoffee edisi ini. Mudah-mudahan saudara semua ga su-udzdzan ya. Di lembarlembar
ini juga terselip gagasan dan pemikiran yang bisa dicontoh bagi yang punya mata
terbuka. Contohnya, saudara bisa punya bengkel motor yang dimiliki 100 kawan yang
punya motor di komplek saudara dan tetangga komplek. Kan jadi ga kemana-mana tuh bisnis bengkelnya. Saudara bisa punya rumah makan yang dimiliki oleh warga.
Sehingga warga sendiri belinya ga kemana-kemana. Satu kampung, patungan bikin pasar bersama. Pasarnya sendiri dibuka lagi untuk warga kampung yang mau berdagang.
Lahannya dan operasinya itu pasar saja yang dimiliki oleh beramai-ramai.
Maka insya Allah pasar itu akan dijaga beramai-ramai pula. Atau yang lainnya.
Mirip-mirip koperasi dah. Gitu. Dalam satu kajian ta’lim di Masjid al Azhar,
saya melempar gagasan yang ternyata jalan (sedang bergulir). Yaitu patungan bikin penerbitan. Bukan soal usahanya. Melainkan kebersamaannya; dalam operasional (pasar) dan networks (distribusi). Saya katakan, coba aja patungan nerbitin buku saya.
Satu judul saja dulu. Dijual untuk kalangan terbatas saja.
Sehingga ga terlalu ribet dengan urusan izin dan lain-lainnya. Cetak dah sebanyak 3000 eksemplar dulu. Tapi modal untuk nyetaknya ini, jangan dari satu orang. Berat.
Bukan berat di modal. Saya yakin banyak dah yang punya duit kalau cuma buat nyetak 3000 eksemplar saja mah. Yang berat itu adalah jual 3000 buku itu kalau sendirian.

Ubah caranya. Kumpulkan kira-kira 30 orang. Patungan dah. Itu pun ga perlu patungan buat semua modal buku. Patungan saja DP nya dulu. Ya, untuk nyetak buku, ga perlu cash. Bayarnya bertahap.
Biasanya 30% dulu. Nah, 30 orang itu patungan kebutuhan 30% uang DP. Kemudian ketika
proses cetak berlangsung, bikin dulu brosur dan form pemesanan buku itu. Kemudian 30
orang bergerak dah nyari pasar di kanan dan di kiri mereka. Dengan cara begini, maka insya Allah akan ada 30 marketer dengan 30 wilayah operasi pasarnya.
Dengan cara begini, buku sebanyak 3000 eksemplar ini akan selesai terjual sebelum
ia malah turun dari percetakan. Inilah yang saya sebut dengan Network Based dan Community Based.
Jejaring pengusaha yang bernama Jakec (Jakarta Enterpreneur Club, jejaring dengan
sebaran di 54 kota di Indonesia), pun sedang diskusi sama saya untuk urusan ini. Juga
motivator muda yang lagi naik daun; Ippo Dewata Santosa, yang biasa dijuluki Creative
Marketer.

Baarokawloohu lanaa. Ayo dah, buka mata. Masih banyak lagi ide-ide lainnya. Hanya
orang-orang yang mau terbuka melihat dan menerima gagasan dan pemikiranlah kiranya yang bisa menjadikan apa yang disajikan ini sebagai bahan diskusi lebih lanjut.
Pasar akan tetap terbuka buat mereka yang selalu terbuka dan dinamis.

Sebagai informasi terakhir, saya ulangi lagi info ini. Bagi yang tertarik untuk mengetahui informasi lebih lanjut, silahkan langsung kontak dengan Hendy ya,
untuk urusan travel ini: +6281519003181. Jazaakumullah khairan katsiran a/ perhatiannya.

Wassalam.


Saya telah menyertakan versi cetaknya untuk didownload disini dengan berpartisipasi menyebarluaskan informasi ini Insya Allah rekan-rekan ikut membantu misi Daarul Qur’an dan PPPA mencetak 100rb penghafal al Qur’an sampai dengan tahun 2015 dan mengembangkan 1000 Pesantren Gratis, insya Allah semuanya bisa tercapai Amiin.


13 July 2009

11 July 2009

10 July 2009

KDW0105 Seri 05 dari 41 seri/esai

Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi MOdul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Semua Ada Waktu, Semua Ada Akhirnya
Seri Materi : KDW0105 Seri 05 dari 41 seri/esai

Sebagaimana malam yang segera akan berakhir dan berganti dengan pagi. Segala
sesuatu juga ada akhirnya. Termasuk segala permasalahan yang kita hadapi. Ia
ada ujungnya. Amal saleh kitalah yang mempercepat perjalanan itu.
Ada kisah seorang ibu muda. Sebut saja T. Beliau memproses perceraiannya sejak tahun
2001. Gak selesai-selesai. Alih-alih berharap bisa bercerai cepat supaya bisa memulai hidup
baru, eh malah beberapa ujian kehidupan muncul. Ibunya menyuruhnya bersabar. “Semua
ada waktunya”, begitu nasihat ibunya.
Setelah sekian tahun, ia diberitahu ibunya agar bersedekah dengan apa yang ia punya.
Sedekah yang besar. Bersedekahlah ia.
Dua tahunan terakhir, ia perbaiki hidupnya. Bila sebelumnya ia belum berjilbab, ia lalu
berjilbab dan memperbanyak taubat. Ia usahakan sering mendatangi pengajian. Kegiatankegiatan
sosial ia ikuti. Ia lupakan persoalan perceraiannya. Ia segarkan hidupnya dengan
Karunia Allah yang lain. Dan memang, banyak manusia yang gara-gara secuplik drama
kehidupannya yang tidak enak, lantas kemudian membuat matanya tertutup dari Karunia
Allah yang sesungguhnya masih teramat besar. Kesusahan hidup, ga sebanding dengan
Karunia Allah berupa “hidup” itu sendiri.
Dan akhirnya waktu yang ia tunggu, tiba. 2 tahun sejak ia bersedekah sesuatu yang besar, ia
mendapatkan keputusan cerai. Sepertinya tiba-tiba, dan berproses dengan sangat mudah.
Beda sekali dengan waktu-waktu sebelumnya.
Yang luar biasa, mantan suaminya ini memberinya uang yang sangat besar. Ia mengaku
tersentuh dengan ketabahan mantan istrinya, dan ia meminta maaf tidak bisa mengurus
anaknya. Sebagai kompensasinya, suaminya ini memberi uang nyaris 1 milyar dari hasil
tabungannya pasca bercerai. Bukan harta gono gini. Mantan suaminya hanya minta
diikhlaskan segala kesalahannya. Yang membuat ibu T ini agak berdebar dengan cara kerja
Allah, mantan suaminya ini bercerita, tabungan yang nyaris 1 milyar tersebut adalah
tabungan 2 tahun terakhir. Masya Allah, suaminya ini “bekerja” sebab diatur Allah. Yang
mana hasil kerjaannya itu adalah buah sabar dan sedekahnya.
Dalam satu kesempatan, si ibu T ini bercerita, barangkali kalau dulu Allah mengabulkan
kehendaknya, maka ia mendapatkan hak cerai, tapi tidak mendapatkan uang 1 milyar. Hari
gini, uang 1 juta saja besar sekali, apalagi 1 milyar.
Saya mengatakan, ya, itulah buah dari dukungan ibunya, buah dari kesabarannya dan hasil
kemudahan dan berkah dari sedekahnya… Dan benarlah juga keyakinan orang-orang tua
dulu, kalau udah waktunya, ya waktunya. Sebagaimana orang-orang tua yang mengajarkan,
kalau udah rizkinya, ya rizkinya.

Kadang saya berpikir ya, andai kita tidak melakukan banyak hal, asal kita perbaiki saja hidup
kita, cara kita hidup, dan memaknai ulang hidup kita untuk lebih lagi beribadah kepada Allah
dan bermanfaat untuk sesama, rasanya hidup kita akan benar dengan sendirinya. Keinginan
kita juga akan terjawab dengan sendirinya. Dan masalah akan selesai dengan sendirinya.
Tapi ya setelah dipikir-pikir lagi, engga juga disebut “tidak melakukan apa-apa” bagi mereka
yang memperbaiki dirinya. Karena itulah ikhtiarnya. Sama dengan ketika saya menyebut
ikhtiar bagi mereka yang bermasalah adalah taubat dan memperbanyak amal saleh. Ada
kemudian yang protes, harus tetap ada ikhtiarnya. Saya menyebut, sudahlah, ikhtiarnya ya
itu: taubat dan amal saleh (memperbaiki shalat, menambah shalat-shalat sunnah, membaca al
Qur’an, sedekah, dll). Sebab nyatanya, tidak gampang loh untuk bisa bertaubat dan beramal
saleh. Kalaulah Allah tidak memudahkan jalan, maka jalan menuju pertaubatan dan amal
saleh tidak akan mudah jalannya.
Belajar dari kasus perceraian berkahnya Ibu T di atas, apa kira-kira yang bisa dipetik oleh
Para Peserta KuliahOnline? Ketika ceramah esai ini saya sampaikan langsung, ada yang
bertanya, apakah bisa selesai dalam 2 tahun juga apabila Ibu T ini tidak melakukan sesuatu?
Lalu yang bertanya ini menjawab sendiri, kayaknya engga ya? Barangkali sedekahnya itu
yang mempercepat. Yang lainnya menjawab, keikhlasannya yang mempercepat. Sebab
sebelumnya ia tidak ikhlas menerima perceraian itu. Dan yang lainnya itu menjawab, doa
ibunya yang juga turut membantu percepatan perceraiannya dan kemudian juga mendapatkan
berkah uang 1 milyar.
“Perjalanan waktu” bisa dipercepat atau menjadi lambat, salah satunya adalah karena
keyakinan kita sendiri kepada Allah, dan amal keseharian kita. Hakikatnya, kalau kita selalu
merasa ditemani Allah, maka sesungguhnya tidak akan pernah ada masalah buat kita.
Bukankah yang kita cari di dunia ini adalah kedekatan diri dengan Allah? Kalaulah kita harus
mendekatkan diri kita melalui pintu masalah, rasanya itulah berkah buat kita.
***
Tidak ada yang datang kepada Allah,
kecuali Allah pun datang kepadanya.
Ada yang berharap ketika ia datang kepada Allah, maka Allah betul-betul datang kepadanya.
Datang dengan segenap pertolongan dan kebaikan Allah. Dan Allah pasti datang. Tapi
memang Kehendak-Nya, bukan kehendak kita. Kita hanya bisa memohon, bukan memaksa.
Kita hanya bisa meminta, bukan mengatur.
Selain Ibu T di atas, adalah Zaidi. Ia bercerita, ia tidak “nyampe-nyampe”. Ia mendekati
Allah dengan harapan dan doa agar Allah mau membayarkan hutangnya. Segala riyadhah ia
tempuh. Namun serasa tumpul benar. Maksudnya, hutangnya tetap ga kebayar-bayar. Sama
saja seperti dengan tidak datang kepada Allah. Malah datang ujian-ujian baru kepadanya
setelah sekian bulan mendisiplinkan riyadhah. Seakan-akan membenarkan pandangan bahwa
kalau mendekatkan diri kepada Allah, ujiannya akan banyak.
Zaidi bertanya seperti yang lain bertanya: Koq mengapa tanda-tanda bisa kebayar hutang
belum muncul juga? Koq ujian hidup bertambah berat? Koq Allah kayak mengabaikan dia?
Saya menyodorkan beberapa jawaban.

Pertama, Allah sedang berkenan menyegerakan segala akibat buruk, dengan jumlah takaran
yang sebenernya sudah dikurangi jauh dari yang semestinya diterima. Biar bagaimana, akibat
buruk harus diterima. Inilah keadilan-Nya. Jika tidak mau akibat buruk diterima setara
dengan keburukan yang harus diterima, maka bertaubat adalah jawabannya. Taubat yang
sempurna. Yang serius. Juga amal salehnya harus hebat. Kalau tidak setara, tetap harus ada
yang dibayar.
Yang begini ini, kurang disadari oleh seseorang. Katakanlah ia pernah berzina. Sedang
berzina itu “kontrak susahnya” harus 40 tahun. Atau malah katakanlah ia berzina dalam
keadaan ia menjadi suami atau istri dari seseorang. Hukumannya bagi yang berzina dan ia
dalam keadaan menikah, adalah hukuman mati. Bayangkan jika sebenernya Allah masih
kasih ia kehidupan. Andai pun sepanjang hidup ia pakai untuk pertaubatan, dan
penderitaannya ia terima sebagai satu kepatutan yang menggugurkan dosanya, adalah wajar
juga kayaknya. Dan itulah Allah. Allah Maha Pengasih Maha Penyayang. Ia hukum hamba-
Nya dengan memperhatikan segala kebaikan diri orang itu dan diri orang-orang di sekeliling
orang itu. Ada yang Allah ringankan sebab ia punya anak yatim. Ada yang diringankan sebab
ia pernah membantu seseorang. Ada yang diringankan sebab istrinya mendoakan tanpa henti.
Ada yang diringankan sebab orang tuanya senantiasa memanjatkan doa untuknya. Ada yang
diringankan sebab anaknya sedang menuntut ilmu. Dan banyak lagi pertimbangan Allah yang
tidak kita mengerti kecuali hanya dengan jalan husnudzdzan kepada-Nya. Baik sangka
kepada-Nya.
Maka jawaban yang berikutnya
dari pertanyaan Zaidi di atas adalah justru seputar dosanya
sendiri. Bagaimana dosanya dia sebelum akhirnya kemudian berjalan menuju Allah, menuju
pertolongan-Nya? Tanyakan dengan jujur. Bila memang dosanya banyak sekali, ya wajar saja
kan? Ibarat tagihan dari amal keburukan, amal-amal kebaikan kayaknya buat bayar dulu
keburukan-keburukan yang ia lakukan selama itu.
Bisa juga dikaitkan bahwa Allah Maha Tahu. Nikmatin saja dulu “kedekatan” diri dengan
Allah, dan pembiasaan ibadah tersebut. Jangan-jangan, kalau Allah mempercepat ia selesai
dari masalah, malah nanti ga bisa istiqamah lagi ibadahnya. Keburu sibuk lagi, dan keburu
lupa lagi. Akhirnya, malah bermasalah lagi.
Anggap saja, ibadah dan disiplin ibadahnya ini sebagai latihan keistiqamahan. Apabila nanti
hutangnya sudah terbayar, atau ia sudah kembali menjadi pengusaha yang sakses, ia bisa
tetap memelihara dhuhanya, bisa memelihara sunnah-sunnah qabliyah ba’diyahnya, bisa
memelihara seluruh amalan-amalan wajibnya. Hingga ia bisa menempatkan Allah jauh di atas
dunia yang ia cari, yang ia kumpulkan. Ini kan jadi semacam Training-Camp buat dia.
Belum lagi soal bala, soal keburukan, dan soal kematian, andai ini bisa dijadikan jawaban
yang ketiga. Maksudnya, harusnya ia keluar dari masalahnya, hidup enak dan bahagia dengan
amal-amal salehnya. Namun, ia berumur pendek, dan ada bala yang lebih besar yang bakalan
datang. Lalu dua hal ini dihapuskan oleh Allah. Bila menyadari hal ini, tambahin saja lagi
load kebaikannya. Jangan ragu menambah vomue ibadah. Makin kenceng ujiannya, makin
kenceng ibadahnya. Makin keras angin masalah yang menerpanya, makin sungguh-sungguh
ibadahnya. Jangan justru malah surut.
Jawaban yang ke-empat, ada derajat yang lebih tinggi yang Allah siapkan untuk dirinya. Ya,
banyak yang lebih naik kehidupannya setelah kesusahan demi kesusahan ia alami. Ada lebih
banyak karunia Allah yang bakal diterima setelah kesulitan hidup yang dihadapinya. Saya
pribadi menyadari bahwa sungguh, ada karunia Allah yang teramat besar di balik segala rupa
kesulitan dan permasalahan hidup yang dihadapi. Pada permulaannya, ia hanya butuh
keikhlasan menerima hidup ini apa adanya, memperbanyak syukur, berpikir positif, dan
kemudian menumbuhkan iman dan memperbanyak amal saleh.
Dunia, bila terlalu dikejar, juga tidak akan mampu memberikan apa-apa. Dan lagian, setiap
perjalanan, termasuk perjalanan mencari solusi, pasti ada akhirnya. Insya Allah jawaban akan
Allah berikan. Baru saja beberapa bulan kan? Belum beberapa tahun? Atau katakanlah, baru
beberapa tahun. Belum bertahun-tahun. Sedang kalau kita ingat dosa kita, sudah berapa tahun
kita kerjakan? Jangan-jangan sepanjang kita hidup, mulai dari akil baligh sampe sekarang ini,
hidup kita banyak bener dosanya. Belum sebanding sama amalan ibadah kita.
Percayalah, setiap perjalanan ada akhirnya. Hanya karena bebannya berat saja, perjalanan kita
cenderung seperti lambat. Tapi, lambat pun, tetap berjalan. Sesungguhnya tidak diam di
tempat. Asal kita terus berjalan. Tidak berhenti.
Sekali lagi, kejar saja perjalanan waktu dengan amal saleh, dan tetap husnudzdzan kepada
Allah. Tetap positif kepada Allah.
Sampe ketemu di esai perkuliahan tauhid berikutnya. Kepada Allah juga kita memohon agar
Allah bukakan terus mata hati kita tentang Kebesaran dan Kekuasaan-Nya. Baarokawloohu
lanaa. Amin.

8 July 2009

KDW0104 Seri 04 dari 41 seri/esai

Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi MOdul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Amal Tabungan
Seri Materi : KDW0104 Seri 04 dari 41 seri/esai


Bagi yang cepat dikabulkannya, barangkali sebab ia sudah punya duluan amal
tabungannya, hingga kemudian Allah menganggapnya cukup amal untuk hajat yang
diinginkannya.
Peserta KuliahOnline yang dirahmati Allah. 3 esai sudah Saudara-saudara semua pelajari.
Ada yang barangkali berkernyit, “Koq belajarnya se-emprit se-emprit, sedikit sedikit?”. Ada
yang merasa sedang diburu waktu, lalu karenanya dia memilih materi Kuliah Terapan
Sedekah. Dan karena pintu materi itu masih ditutup kecuali menyelesaikan Kuliah Tauhid ini
dulu, mereka tidak bisa mengakses dulu Kuliah Terapan tersebut. Ada yang enjoy saja
dengan cara penyajian yang seperti ini. Ga masalah. “Memang belajar itu mesti pelan-pelan”,
begitu kata sebagian yang setuju.
Lepas dari itu semua, saya meyakinkan diri saya, kawan-kawan Pengelola KuliahOnline, dan
peserta semua, bahwasanya sungguh, jika Kuliah Tauhid ini saja diikuti, diresapi, dan
dijalankan pelan-pelan, insya Allah Kuliah Tauhid ini sudah lebih dari cukup.
Insya Allah sedang dalam proses editing audio penyerta yang berjudul: “Kenapa Harus
Khawatir Padahal Ada Allah? Audio tausiyah pencerahan ini merupakan rekaman ketika saya
berceramah di perusahaan Toshiba – Tambun. Saat itu ada satu unitnya yang mau ditutup,
dan adik saya ada di sana. Bahagian dari salah satu karyawan yang menghadapi kemungkinan
PHK.
Karyawan-karyawannya gelisah. Lalu mereka dikumpulkan serikat pekerjanya, dikumpulkan
kawan-kawan Rohis nya, untuk diadakan semacam pencerahan agar tidak gelisah, tidak
khawatir dan tidak takut. Dan sebaliknya, bersemangat untuk berdoa agar Allah memberikan
Petunjuk-Nya dan Pertolongan-Nya.
Alhamdulillah, saat itu saya datang. Saya memberi materi Kuliah Tauhid. kuliah Iman. Saya
yakinkan diri mereka semua, bahwa rizki itu bukan di tangan manusia. Bukan sebab mereka
bekerja. Bukan sebab perusahaan itu beroperasi. Tapi lebih karena Allah mengizinkan semua
itu terjadi. Bagi mereka yang sudah percaya bahwa Allah yang ada di balik semua kejadian,
gampang. Tinggal datang kepada Allah, mengaku salah atas setiap perbuatan yang
mengakibatkan ada nikmat-nikmat-Nya yang ditarik-Nya kembali, dan memohon ampun
seraya berharap ada Keajaiban Allah dalam kehidupannya. File audio tersebut saya sertakan
untuk Saudara-saudara semua. Mudah-mudahan selesai dalam 2-3 hari ke depan.
Dan kali ini, saya minta komentar dari peserta semua tentang 3 esai Kuliah Tauhid
pendahuluan, termasuk esai yang sekarang ini. Silahkan diimel di imel nya Web Admin
KuliahOnline. Atau, dibawa pas ketemuan darat (kopi darat) di Sekolah Daarul Qur’an
Internasional di Kampung Ketapang. Sedianya tanggal 30 besok, sore, jam 16.00
ketemuannya. Bawa dah. Untuk sama-sama menjadi bahan pembelajaran. Komentari, kasih
catatan-catatan, dan kita diskusikan bersama.
Ketika nanti saudara-saudara mendengar audio tausiyah yang berjudul: “Kenapa Harus
Khawatir Padahal Ada Allah?”, Saudara akan mendengar pembahasan Kuliah Tauhid, Kuliah
Iman. Saya berdoa semoga kita semua menjadi yakin bahwa HANYA ALLAH YANG
MENGATUR SEGALA-GALANYA dan DIA BEGITU KUASA UNTUK MENGATUR
YANG TERBAIK UNTUK SEGALA URUSAN KITA.
***
Para Peserta KuliahOnline yang berbahagia. Sesuai dengan janji dari ujung esai yang
sebelumnya, bahwa kita akan membahas sedikit dari lanjutan kisahnya Ibu Yuyun. Yang lupa
bagaimana kisahnya, lihat lagi ya kisah Bu Yuyun tersebut. Bahwa ia dalam satu malam bisa
mendapatkan solusi bagi putranya yang mau masuk ke perguruan tinggi.
Buat saya, menarik sekali membahasa kisah tersebut. Kalau cerita itu saya penggal hanya di
hari itu, maka kesannya memang adalah doanya Bu Yuyun DIKABUL ALLAH DALAM
SEHARI SEMALAM.
Ya, sorenya Bu Yuyun menerima khabar bahwa anaknya lulus. Lalu malamnya bangun
malam bersama anaknya. Kemudian besoknya Allah menurunkan pertolongan lewat seorang
paman yang menanggung biaya anaknya Bu Yuyun yang tidak lain adalah ponakannya.
Terlihat sangat Kun Fayakuun ya? Satu malam jadi. Satu malam selesai.
Jawabannya, bisa ya bisa tidak.
Bisa ya, sebab kita lagi belajar nih bahwa Allah itu Begitu Kuasa. Jangankan hitungan jeda
satu malam. Tanpa ada jeda pun Allah bisa. Namun bukan belajar namanya kalau kita tidak
mengupas lebih jauh lagi.
Coba lihat detail cerita sebelumnya:
Bu Yuyun, sebut saja begitu, punya anak semata wayang yang ia besarkan tanpa
suami. Sejak putranya ini masuk SMA kelas 1, suaminya meninggal. Dari hari ke
hari ia kuatkan batinnya bahwa ia tidak sendirian dalam membesarkan anaknya. Ia
bersama Allah. Allah selalu menemaninya. Ini yang ia yakini. Saban shalat ia
berdoa agar diberi kemampuan membesarkan anaknya dan memiliki rizki yang
cukup.
Lihat, nampak Bu Yuyun datang ke Allah, jauh-jauh hari sebelum anaknya dinyatakan lulus.
Bukan baru malam itu saja ia datang ke Allah. Sekali lagi, dari jauh-jauh hari.
Kita buka lagi lembaran esai kuliah sebelumnya yang belajar dari kisah Bu Yuyun. Saya
kembali menukilkan sedikit:
Bu Yuyun berdebar-debar. Ia tahu, kalau anaknya lulus, ini masalah buat dirinya.
Kalau anaknya tidak lulus, pun masalah buat dirinya juga. Tentu saja ia senang
dapat masalah dalam bentuk anaknya lulus. Masalahnya tentu saja apalagi kalau
bukan uang kuliah anaknya. Tapi segera ia banting sesuai dengan pengalamannya
selama ini. Ada Allah Yang Maha Memberi Rizki. Dan ini yang membuatnya tenang.

Ia tahu bahwa Allah Maha Tahu. Kondisi ini sudah ia sampaikan ke Allah jauh-jauh
hari, bahwa ia butuh biaya buat anaknya lulus. Dia yakin, Allah pasti akan
memenuhi kebutuhan anaknya, dan atau memberikan yang terbaik. Ia malah
bersemangat sekali untuk menambah kedekatan dirinya dengan Allah.
Dan ini yang kita perlu belajar. Bu Yuyun mendatangi Allah sejak pagi-pagi ia mendapatkan
masalah. Bahkan, sebenernya, jauh sebelum ia menghadapi persoalan biaya masuk anaknya
ke perguruan tinggi ini, ia sudah berangkat menuju Allah. Ya, ia berdoa dan menitipkan
kejadian-kejadian rizki di masa yang akan datang, sedari awal.
Bu Yuyun juga punya tabungan yang banyak sekali. Sementara insya Allah kalau melihat
kepribadian dari story singkatnya, ia kelihatannya ibu yang salehah, yang sedikit dosanya.
***
Beda Bu Yuyun, beda pula dengan kita. Kebanyakan kita, mendatangi Allah, setelah kita
mendapatkan masalah. Atau ketika kita ada keperluan. Meskipun mendatangi Allah, atau
mendekatkan diri kepada Allah lewat pintu ini – pintu masalah dan hajat – adalah
diperbolehkan (bahkan dianjurkan), namun sering membuat tauhid orang suka rusak.
Rusak bagaimana? Andai Allah tidak segera mengabulkan, maka ia akan putus asa. Ia
cenderung marah-marah, dan bahkan tidak sedikit menyalahkan orang yang menasihatinya.
Saya sering juga “disesali” orang. Ketika saya suruh seseorang bersedekah, lalu ia bersedekah
di pertemuan pertama, dan ia tidak mendapati pertolongan Allah segera datang kepadanya,
saat itulah tidak sedikit saya kemudian “disesali” oleh orang tersebut. Bahkan tidak jarang
saya “diadili” dan “dipergunjingkan”. Padahal andai ia terusin ngajinya, ia lengkapi lagi
pengetahuannya, dan ia sabarkan dirinya, insya Allah sedekahnya akan bekerja, ibadahnya
akan bekerja.
Dengan belajar esai-esai Kuliah Tauhid, saya kepengen kita semua bergerak menuju Allah.
Tidak ada yang pernah terlambat mendatangi Allah, hingga ia meninggal dunia. Sedang,
meskipun sudah meninggal dunia, Allah masih berbaik-baik sama kita, dengan terus
menyuburkan amal kebaikan kita ketika di dunia hingga saatnya nanti kita dihadapkan
dengan Hari Hisab.
***
Sebagai penyerta KuliahOnline, saya sertakan juga Program Riyadhah 40 Hari. Semacam
pesantren personal bagi setiap individu yang bertujuan menjaga rutinitas/keistiqamahan
ibadah selama 40 hari. Insya Allah akan diberitahu di esai-esai berikutnya. Tunggu saja.
Nah, kelak, bagi yang ikut serta Program Riyadhah 40 Hari, saya betul-betul meminta jamaah
yang ingin ikut, membuka diri akan Kebesaran Allah, dan masuk ke program riyadhah dalam
kepercayaan penuh dan masuknya juga dengan kekuatan penuh. Namun, sebelum itu, saya
meminta kawan-kawan shalat taubat dulu seraya memohon ampun atas segala
kesalahan yang barangkali belum sempat dimintakan ampunannya kepada Allah.
Sungguhpun demikian, tidak sedikit juga yang kemudian tidak menampakkan hasilnya,
walaupun ia sudah menyelesaikan riyadhah di hari ke-40 nya. Dan sebaliknya, banyak juga
yang kemudian mendapatkan berkah padahal ia belum menyelesaikan riyadhahnya.
Mengapa? Banyak jawabannya. Dan insya Allah di lembaran-lembaran setelah lembaran ini,
satu demi satu akan terkuak dengan izin-Nya.
Oh ya, barangkali ada yang ga paham apa itu riyadhah ya? Riyadhah itu exercises. Latihanlatihan.
Latihan apa? Latihan ibadah. Ditulis, dicatet, dan dilihat detail eksekusi ibadahnya
satu demi satu, hari demi hari, sampe hari ke-40. Dimulai dari tahajjudnya jam berapa?
Berapa rakaat? Witirnya ada apa engga? Istighfar di waktu sahurnya? Baca Qur’an di
penghujung malamnya? Shubuhannya di masjid apa engga? Dan amalan-amalan yang
diperlukan cek-lis nya secara jujur. Mirip seperti anak SD yang membawa buku Ramadhan
yang harus ditandatangani oleh ustadz-ustadznya.
Namun satu hal yang saya mau jadikan pembelajaran buat diri saya pribadi. Bahwa ketika
saya pribadi masuk dan mendekatkan diri kepada Allah, saya kudu sadar, saya pun lama
sekali meninggalkan Allah atau lama sekali tidak memperhatikan Allah sepenuh-penuhnya
perhatian. Lalu, masakan ketika baru masuk sudah mau minta diperhatikan dan dijawab?
Riangkan hati, bahwa mendekatkan diri saja kepada Allah, sudah merupakan satu
keberuntungan.
Sampe ketemu di esai berikutnya. Kita berdoa untuk diri kita, keluarga kita, dan bangsa kita,
agar hanya Allah saja yang menjadi Tuhan kita. Jangan ada yang lain. Dan agar kita menjadi
hamba-Nya yang baik, yang ringan mengerjakan amal saleh, berilmu dan bagus keyakinan
dan imannya kepada Allah.


6 July 2009

KDW0103 Seri 03 dari 41 seri/esai

Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi Modul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Allah Sebagai Pusat

Allah Sebagai Pusat
Orang-orang yang mengenal Allah dan meyakini-Nya, insya Allah akan tenang hidupnya,
jauh dari kekhawatiran, jauh dari kegelisahan.
Bu Yuyun, sebut saja begitu, punya anak semata wayang yang ia besarkan tanpa suami. Sejak
putranya ini masuk SMA kelas 1, suaminya meninggal. Dari hari ke hari ia kuatkan batinnya
bahwa ia TIDAK SENDIRIAN dalam membesarkan anaknya. Ia bersama Allah. ALLAH
SELALU MENEMANINYA. Ini yang ia yakini. Saban shalat ia berdoa agar diberi
kemampuan membesarkan anaknya dan memiliki rizki yang cukup. Ya, bener loh. Hampir
saban shalat.
Saya banyak belajar dari Bu Yuyun ini. Ketika banyak orang gelisah, ia hidup tenang. Sebab
ada Allah di hatinya, ada Allah di pikirannya. Ketika banyak orang ketakutan dan risau
dengan dunianya, ia tenang-tenang saja. Persis seperti meja, yang begitu tenang sebab
memiliki empat kaki yang kuat yang menopang keberadaannya. Hidupnya begitu santai. Dan
ini yang menjadikannya lebih kaya ketimbang orang yang kaya tapi hidup selalu penuh
dengan kekurangan.
Sebagai ikhtiar dunianya, ia membuka jahitan rumahan. Ia bertutur, selalu ada saja pelanggan
di saat yang tepat ia membutuhkan rizki. Sudah diatur Allah, begitu katanya.
Sejauh ini, aman-aman saja.
Sampe kemudian anaknya ini pergi hari itu untuk melihat kelulusannya; masuk atau tidak ia
ke perguruan tinggi yang ia idam-idamkan.
Bu Yuyun berdebar-debar. Ia tahu, kalau anaknya lulus, ini masalah buat dirinya. Kalau
anaknya tidak lulus, pun masalah buat dirinya juga. Tentu saja ia senang dapat masalah dalam
bentuk anaknya lulus. Masalahnya tentu saja apalagi kalau bukan uang kuliah anaknya. Tapi
segera ia banting sesuai dengan pengalamannya selama ini. Ada Allah Yang Maha Memberi
Rizki. Dan ini yang membuatnya tenang.
Ia kenal dengan Allah, bahwa Allah selama ini senantiasa mencukupkan rizki buat dirinya
dan anaknya.
Ia tahu bahwa Allah Maha Tahu bahwa ia sedang membesarkan anaknya. Dan Allah pun tahu
bahwa hari ini akan ada khabar tentang nasib anaknya. Kondisi ini sudah ia sampaikan ke
Allah jauh-jauh hari, bahwa ia butuh biaya buat anaknya lulus. Dia yakin, Allah pasti akan
memenuhi kebutuhan anaknya, dan atau memberikan yang terbaik. Ia malah bersemangat
sekali untuk menambah kedekatan dirinya dengan Allah. Sekali lagi, ini yang membuatnya
tenang.
Dan memang Allah Maha Mengatur. Sehari setelah anaknya dinyatakan lulus, Allah kirimkan
paman anaknya ini, alias adik almarhum suaminya. Hari itu, beliau berkunjung silaturahim.
Dan Allah alirkan rizki untuk anaknya, lewat pamannya ini. Bukan hanya untuk uang masuk
kuliahnya saja, tapi juga untuk biaya kuliah secara keseluruhan.
Semoga saya bisa belajar lebih banyak lagi dari Bu Yuyun ini.
I’m coming ya Allah. Saya datang kepada-Mu ya Allah. Semestinya, dengan banyaknya
masalah dan hajat saya, saya lebih bersemangat lagi dan tanpa lelah mendatangi-Mu dan
memohon pada-Mu.
Bolehlah dibilang bahwa hidup ini harus punya keyakinan terhadap Yang Kuasa. Tanpa ini,
akan lemah sekali kita menjalani hidup ini. Dan untuk memiliki keyakinan, buka diri buka
hati untuk menerima ilmu dan pengajaran tentang keyakinan. Kita sama-sama meminta
kepada Allah agar Allah betul-betul membukakan mata hati kita bukan saja untuk mengenal-
Nya, tapi juga untuk meyakini-Nya; yakin akan Kebesaran-Nya, yakin akan Kekuasaan-Nya.
Kita butuh Allah. Dan senantiasa akan selalu butuh Allah. Maka bertuhanlah Allah. Sebenerbenernya
pertuhanan. Supaya Allah betul-betul menjaga kita, menolong kita, dan
menyediakan apa-apa yang kita perlukan yang kita butuhkan. Jangan sampai kita hidup
seperti tidak punya Allah. Allah Maha Memberi Rizki, tapi hidup kita susah. Allah Maha
Menolong, tapi setiap ada hajat dan masalah, selalu merasa mentok. Kalo bahasa saya mah,
Allah dianggurin. Alias “dibikin nganggur’, sebab jarang kita deketin, jarang kita mintakan
bantuan-Nya.
Insya Allah doa bi doa. Saya mendoakan Anda semua, dan Anda juga doakan saya. Supaya
Allah betul-betul hadir di kehidupan kita dan berkenan hadir di kehidupan kita.
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah",
kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun
kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan
janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh)
surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu".
Kami-lah Pelindungmu di dunia dan di akhirat; Di dalamnya kamu memperoleh
apa yang kamu inginkan dan apa yang kamu minta.
Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang”. (Qs. Fushshilaat: 31-32).

Ada baiknya peserta KuliahOnline mempelajari sedikit kisah Bu Yuyun ini, pelan-pelan.
Betul-betul diresapi. Kenapa ada orang yang begitu dimudahkan urusannya sama Allah, dan
mengapa ada yang sepertinya diblok, dipersulit oleh Allah. Saya meminta Saudara-saudara
semua bersabar, mempelajari Kuliah Tauhid ini mahlan mahlan, pelan-pelan. Sebab setelah
Kuliah Tauhid ini Saudara akan ngebut belajar tentang sesuatu yang membuat Saudarasaudara
semua ada percepatan di semua urusan. Termasuk di urusan mengubah hidup,
memperbaiki hidup, dan di urusan pencarian solusi buat permasalahan kehidupan yang
sedang dihadapi. “Ilmu instan” ini akan bahaya di kedepan harinya, manakala Saudarasaudara
tidak punya basic tauhid yang bagus. Saya tidak terlalu perduli omongan kawankawan
pengelola Kuliah Tauhid yang mengatakan, ada baiknya memberi banyak pelajaran
buat kawan-kawan peserta KuliahOnline agar banyak yang didapat. Saya tidak perduli. Saya
bahkan ketika belajar, dapat jauh lebih sedikit ketimbang ini.
Pernah satu ketika saya datang ke seorang ulama. Saya mengadu tentang masalah saya
kepadanya. Meminta nasihat darinya. Saya datang dari jam 20 malam. Sampe jam 00 saya
belum juga dipanggilnya. Boro-boro diajak bicara. Disuruh mendekat pun tidak. Di awal sih
saya diajak bicara. Tapi bicaranya ketus sekali, “Koq datang lagi?!!!”. Saya jawab, “Ya,
sebab masalahnya beluman selesai”. “Ya sudah, tunggu sana”, katanya, sambil menunjuk
satu sudut teras majelisnya.
Saudara-saudaraku Peserta KuliahOnline, saya kemudian menunggu dengan sabarnya. Tapi
ga urung saya gatel juga untuk tidak bertanya. Saya bertanya, “Kyai, sudah jam 12 (malam),
kapan saya dikasih kesempatan bicara?”. Waktu itu saya lihat tamunya tinggal sedikit. Saya
berharap saya bisa nyelang walo sebentar.
Ternyata saya salah. “Yang nyuruh situ dateng siapa?”
“Ga ada. Saya sendiri”.
“Ya sudah, tunggu saja!”.
Wah, andai tidak ada husnudzdzan, baik sangka, niscaya saya sudah kesal bukan kepalang.
Saya tentu akan mengatakan kepada Kyai ini, tidak menghargai tamu. Tapi ya itu. Saya
menerima apa kata guru, dan saya memilih menerima perlakuan guru.
Kira-kira jam 01-an, mendekati jam 02 pagi, saya baru dipanggilnya.
Beliau lalu bertanya, “Tahu IBM ga?”
Sungguh pun saya tahu, tapi saya bingung. “Apa urusannya dengan masalah saya tuh IBM?”,
tanya saya. Tentu saja dalam hati. Saya ga berani bertanya langsung. Akhirnya saya jawab
singkat saja, “Tahu, Kyai”.
“Nah, IBM itu punya VPN, Virtual Private Network, jaringan jalur khusus. Ntar gue kasih
VPN buat elu yang bisa jadi jalur khusus elu berdoa kepada Allah. Insya Allah hutang elu
yang segede gunung, kempes dah!”.
Kejadian dialog ini terjadi sekitar tahun 2003. Kyai Betawi ini memang kerja di Perusahaan
Asing. Perusahaan Perancis.
Sumpah. Saat itu saya merasa Kyai saya akan memberi saya sesuatu yang gimanaaa gitu.
Sesuatu yang BESAR yang bakal instan membuat saya selesai masalah saya. Sim Salabim.
Begitu saya pikir. Ternyata saya tidak sepenuhnya benar. Malah, sempat berkernyit dan
tertawa kecil.
Kyai tersebut masuk ke dalam rumahnya, dan sejurus kemudian keluar lagi membawa DUA
PENTOL KOREK API. Dua korek api itu dilempar ke arah saya. “Nih pake nih...”, katanya.
Ngasihnya bener-bener dilempar. Sebab beliau ngasih sambil berdiri. Sedang saya duduk di
bawahnya. “Itu korek api, VPN buat elu. Pake tuh yang bener. Udah gih dah, pulang!”.
Saya pulang akhirnya. Kurang lebih 6 jam saya menunggu, hasilnya 2 korek api saja!
Menggerutu ga saya? Ntar dulu. Saya berpikir bahwa saya barangkali belajarnya kudu sedikit
demi sedikit. Tapi apa ya maksudnya?
Pelan-pelan saya pikirkan. Hingga akhirnya saya mengaitkan dengan kalimatnya tadi:
“Nah, IBM itu punya VPN, Virtual Private Network, jaringan jalur khusus. Ntar
gue kasih VPN buat elu yang bisa jadi jalur khusus elu berdoa kepada Allah. Insya
Allah hutang elu yang segede gunung, kempes dah!”.
Saya akhirnya mampu mengkorelasikan 2 korek api yang nyaris tanpa kata-kata itu
dengan kalimat singkat Kyai. Rupanya saya disuruh bangun malam. Jangan banyakin
tidur. Bagaimana-bagaimananya dengan 2 korek api ini, saya bahas di Kuliah Pilihan
tersendiri yang judulnya: Rahasia Angka 11. Silahkan dah nanti login di sana, setelah
KuliahOnline 41 esai ini selesai.
Satu hal yang mau saya kata, adalah sabar. Belajar itu harus sabar. Kita sama berdoa
kepada Allah, agar Allah betul-betul berkenan memberi kita ilmu yang bermanfaat dunia
dan akhirat. Sesuatu yang sedikit yang diberi-Nya manfaat dan ada ridha-Nya, niscaya
menjadi sesuatu yang betul-betul berpengaruh positif bagi hidup kita. Wallaahu a’lam.
Ok, sampe ketemu dengan materi besok. Besok saya akan tambahin dengan pelajaran di
balik Kisah Bu Yuyun, termasuk kenapa koq sepertinya bisa “satu malam”?
Saya mohon maaf atas semua kesalahan saya dalam memberikan pengajaran. Mudahmudahan
Saudara-saudara memaklumi cara saya mengajar ini. Sekali lagi saya berdoa
mudah-mudahan segala biaya, waktu, energi Saudara dalam mengklik website ini
menjadi amal ibadah dan dihitung sedekah Saudara. Sampaikan ilmu ini kepada
sebanyak-banyaknya orang. Tapi sarankan kepada mereka semua, agar mengikuti saja
KuliahOnline ini secara langsung, mandiri, agar ada keberkahan lebih banyak buat
semua yang terlibat.
Insya Allah tanggal 30 sore saya mengagendakan ketemuan darat (kopi darat), sekaligus
syukuran KuliahOnline ini. Insya Allah akan diberitahukan lebih lanjut oleh Web Admin
dari KuliahOnline ini. Salam dan doa saya untuk Saudara-saudara semua. Mohon
doanya ya. Waktu saya susun dan edit esai kuliah ini, saya sudah mau jalan ke rumah
sakit. Bayi saya masih dirawat di Rumah Sakit Harapan Kita. Mudah—mudahan
Saudara-saudara tergerak memberikan doa buat kami semua. Terima kasih ya.


5 July 2009

Accessories Handphone

Kami Menyediakan berbagai macam Accessories Handphone yang berkualitas, Up to date, Harga yang kompetetif, Dan produk yang bervariasi Seperti Hard Case, Silicone Case, Leather Case, Screen Protector, Memory Card, dan Accessories lainnya, untuk harga kami sesuaikan dengan budget anda. Toko Kami merupakan partner yang bisa anda andalkan.

Pembelian Bisa Melalui Hotline Atau datang langsung ke toko kami dengan alamat :

MC Cellular

ITC Kuningan Lt.3 B.12 No.9 Telp : (021)57935442
Jl.Prof.Dr.Satrio Jakarta Selatan 12940



Metro Accessories

ITC Kuningan Lt.3 B.10 No.2 Telp : (021)57935159
Jl.Prof.Dr.Satrio Jakarta Selatan 12940



Mobile +


ITC Kuningan Lt.3 B.14 No.7 Telp : (021)57935440
Jl.Prof.Dr.Satrio Jakarta Selatan 12940



Quick Cellular


ITC Kuningan Lt.3 B.12 No.7 Telp : (021)57935577
Jl.Prof.Dr.Satrio Jakarta Selatan 12940

KDW0102 Seri 02 dari 41 seri/esai

Modul Kuliah : Kuliah Dasar Wisatahati / KDW-01
Materi MOdul : Kuliah Tauhid
Judul Materi : Laa ilaaha illallaah

Yang kita perlukan di kehidupan ini adalah tauhid, iman dan amal saleh.
Ingin rasanya saya gemakan terus kalimat tauhid ini di hati ini. Saya jaga jangan sampai ia
lepas. Bahwa LAA ILAAHA ILLALLAAH, tidak ada Tuhan selain Allah. Termasuk di
urusan rizki. Tidak ada pemberi rizki kecuali Allah. Tidak ada rizki selain dari Allah. Tidak
ada cara mencari rizki kecuali caranya Allah. Tidak ada tuhan selain Allah pokoknya.
Saya mau meyakini Kalimat Tauhid ini, supaya enteng hidup saya, tidak kelelahan di dalam
mencari dan menikmati dunia, dan menjadikan Allah sebagai Sentral Kehidupan saya.
Tidak mudah. Karenanya saya mau bersungguh-sungguh dan berdoa. Memohon taufiq dan
hidayah-Nya.
Saya melihat tidak sedikit manusia yang kelelahan mencari dunia. Sebab yang ia cari
memang dunia. Tiada ia tempuh jalan-jalan ibadah yang mengantarkannya kepada Pemilik
Dunia. Saya tidak mau menjadi bahagian dari orang-orang yang kelelahan itu. Saya ingin
kemudahan.
Saya melihat manusia-manusia yang berat hidupnya dengan beban hidupnya. Sebab ia tidak
men-share bebannya itu kepada Allah. Padahal DIA lah Yang Maha Meringankan.
Saya melihat ada yang menangis padahal Allah Maha Membahagiakan; Ada yang hidupnya
sulit, padahal Allah Maha Memudahkan; Ada yang bermasalah, padahal Allah Maha
Menolong; Ada yang miskin dan menderita, padahal Allah bisa menciptakan kekayaan di hati
yang tidak perlu kaya secara dunia; Ada yang kaya, tapi tidak memiliki keluarga.
Keluarganya adalah bisnisnya. Keluarganya adalah pekerjaannya. Tawa canda anak-anaknya
milik pembantu-pembantu dan supirnya, lantaran ia jarang berkumpul sama anak-anaknya.
Pasangan hidupnya juga adalah kesibukannya.
Subhaanallaah, izinkanlah kami-kami menjadi orang kaya yang hidupnya senang ya Allah.
Senang dunia akhirat. Bahagia dunia akhirat.
Saya melihat ada yang keluarganya berantakan, sementara ia enjoy dengan hal itu, lalu ia
katakan kepada dunia dia mau membentuk keluarga baru yang lebih harmoni; Ada yang
hidupnya pindah berpindah, dari kesenangan yang satu ke kesenangan yang lain, hingga
jiwanya sendiri lelah mengikutinya. Wajahnya ceria, tapi jiwanya rapuh; Ada manusia yang
segalanya ada, tapi penghuni langit tiada mencintainya dan tiada menghargainya. Yang bisa
menghormatinya, yang bisa memuliakannya, adalah manusia-manusia yang tiada pernah tahu
siapa dia sebenarnya. Dia merasa dunia digenggamnya. Padahal dunia sedang
menghinakannya; Ada yang mengenal semua tempat-tempat indah, dan berkeliling dunia.
Tapi hatinya, pikirannya, badannya, tiada pernah dibawa menikmati shalat-shalat malam,
bahkan keheningan berduaan dengan Pemilik Surga di dalam shalat pun tiada dia kenal; Ada
pekerja-pekerja yang mengabdikan hidupnya untuk kerja dan usaha, sehingga sesungguhnya
dirinya pun tiada kebagian jam istirahat dan bersenang-senang bahkan.
Saya melihat tidak sedikit manusia yang justru malah mudah mencari dunia. Tapi ia
kekeringan. Ada selalu yang diambil sebagai tebusan dari mudahnya ia mendapatkan dunia.
Itu saya lihat terjadi sebab kemudahan itu ia dapatkan bukan dengan mentaati Allah,
Tuhannya. Sehingga ia tidak sadar bahwa Allah justru mengazabnya dengan dunia-Nya.
Saya mengingat analogi maen CATUR yang sering saya sampaikan kepada para pendengar
tausiyah saya, yang sesungguhnya saya sedang memperdengarkannya pada diri saya sendiri.
Kalau kita maen catur BERDUA, maka berlaku aturan permainan catur. Dimana kuda
jalannya L. Peluncur jalannya miring. Pion hanya bisa jalan maju tidak bisa mundur, dan
paling banyak hanya bisa jalan dua kotak catur lurus ke depan. Adapun Raja, bila di
depannya, seluruh Pion belum dijalankan, dan Peluncur serta Menterinya masih ada di kanan
kirinya, maka Raja hanya bisa diam. Tidak boleh ia melompati Raja. Itulah ATURAN
CATUR. Tapi itu kalau maen BERDUA. Bagaimana kalau maen catur SENDIRIAN? Kalau
maen catur sendirian, ya bebaslah maennya. Tidak berlaku hukum permainan catur. Kita
boleh menjalankan Kuda selagu-lagunya. Mau lurus, mau muter-muter, mau lompat, bebas.
Peluncur pun mau kita buat jalannya melompat-lompat seperti maen halma, boleh. Bagi Raja,
meskipun seluruh pion belum dijalankan, ia pun boleh melompat dan bebas bergerak ke sana
kemari. Inilah yang terjadi kalau kita maen catur SENDIRIAN.
Dan bila analogi catur ini boleh dibawa ke urusan tamsil tauhid, maka perlu kita ketahui
Allah itu tidak ada sekutu bagi-Nya. Ibarat main catur, ALLAH MAEN SENDIRIAN DI
DUNIA INI. TIDAK ADA YANG LAIN.
Kemudahan ada di tangan Allah. Laa ilaaha illallaah. Tidak ada yang bisa memberi
kemudahan kecuali Allah. Kebahagiaan, ketenangan, kedamaian, ada di tangan Allah. Laa
ilaaha illallaah. Tidak ada yang bisa memberi itu semua kecuali Allah. Sama dengan
maksudnya itu kalimat; Tidak ada yang bisa memberikan ragam kesulitan kecuali Allah yang
hingga Dia lah yang bisa melepaskannya kembali. Kehendak itu kehendaknya Allah. Maka
saya kepengen Allah berkehendak memudahkan segala urusan saya. Tapi bila saya
menghendaki Allah memberikan kemudahan buat saya, sudah seharusnya saya menjadi
hamba-Nya yang mau mengikuti segala aturan-Nya, dan siap untuk melaksanakan kewajiban
dan meninggalkan larangan-Nya. Saya tidak menjamin diri saya sendiri, bahwa ia akan
mendapatkan segala kemudahan apabila Allah tidak saya ikuti. Rasul pun demikian. Ia tidak
sanggup menjamin dirinya dan anak keturunannya masuk surga bila tiada ketaatan dan amal
salih.
Bila Allah sudah mengatur, maka Kun Fayakuun-Nya yang terjadi. Kuasa-Nya yang terjadi.
Karena Dia lah Laa ilaaha illallaah. Tidak ada yang mengatur dunia ini kecuali Allah. Saya
sangat sangat bersedia untuk diatur. Sebab saya tahu dan meyakini, dengan sabab ilmu yang
diteteskan-Nya pada saya, melalui pengajaran para guru, para orang tua, lewat berbagai
media, bahwa kalau Allah sudah mengatur, maka aturan-Nya itulah yang terbaik. Laa ilaaha
illallaah. Tidak ada aturan yang terbaik kecuali apa-apa yang sudah Allah aturkan.
Laa ilaaha illallaah. Tidak ada Tuhan selain Allah. Tidak ada pemain di dunia ini, kecuali
Allah, yang memainkan seluruh peraturan, sebab peraturan adalah peraturan-Nya, dan segala
kuasa adalah Kuasa-Nya.
Dengan berpikiran seperti ini, yang harus saya lakukan adalah menyadari semua itu, pasrah
berserah diri untuk ikut di dalam aturan-Nya dan mengikuti-nya sepenuh hati dengan
kekuatan penuh. Tidak setengah-setengah.
Laa ilaaha illallaah. Tidak ada kehidupan kecuali untuk-Nya.
Saya melihat, kegagalan para pencari dunia, baik di tahapan mencari dunia, atau di tahapan
menikmati dan mengelola dunia, adalah aktifitasnya tidak dia lakukan karena Allah dan
untuk Allah. Andai dia punya visi misi li i’laa-i kalimaatillaah, untuk meninggikan kalimat
Allah, maka tidak ada pernah kegagalan baginya…
***
Sampe sini, SAYA MEMBACA ULANG TULISAN INI. Tulisan yang dijadikan esai-esai
Kuliah Tauhid di KuliahOnline Wisatahati.
Ya, saya membaca ulang apa yang saya tulis. Dari atas, sampai bait ini.
SAYA TIDAK PERCAYA YANG SAYA TULIS. Benarkah yang saya tulis ini? Sehebat
itukah tauhid saya? Tambah ga percaya lagi, bahwa saya sedang mengajar lewat esai ini,
Kuliah Tauhid kepada seluruh peserta KuliahOnline.
Adduh, andai benar, saya benar-benar memohon Allah menjadikannya menjadi bait-bait doa
agar apa yang tertulis menjadi kenyataan. Allah bimbing saya untuk mencari dunia dengan
baik, dan memanfaatkannya dengan baik untuk kepentingan agama-Nya, dan hanya di jalan-
Nya. Allah bimbing saya untuk senantiasa mensyukuri segala nikmat, dan meyakini bahwa
Laa ilaaha illallaah, tidak ada sesuatu yang harus dikejar kecuali diri-Nya semata. Yang
dengan demikian tidak seharusnya pencarian dunia, berhenti di sebatas mencari dunia itu
saja. Terus dikonsentrasikan di pembesaran asma-Nya, di perbesaran manfaatnya.
SAYA MELIHAT DIRI SAYA. Ya, saya melihat saya! Saya masuk ke kehidupan saya…
Dan saya menemukan diri ini masih jauh dari tulisan di atas. Teramat jauh.
Jauuuuuuuuuuhhhh…
Duh, apa sanggup saya menuliskannya lagi bait-bait yang masih menari di hati ini?
Saya ingin berteriak kepada diri saya, tunjukkan kalau Anda benar!
Lagi. Saya melihat diri saya lagi. Wuh, benar! Jauh. Lihat saja. Allah memanggil saya.
Memanggil dengan azan. Lihat, saya tidak bergeming. Apakah ini yang disebut Laa ilaaha
illallaah? Tidak ada urusan --harusnya-- kecuali urusan-Nya Allah yang harus lebih kita
urus? Nyatanya, saya masih menomorduakan panggilan Allah.
Saya tahu Allah bakal datang. Sebab waktu shalat betul-betul sebentar lagi datang. Tapi saya
malah masih nulis, bukan siap-siap menyambut kedatangan-Nya. Dan tidak pagi tidak siang
tidak malam, di setiap waktu shalat, saya tahu jadwal shalat. Lalu, bukannya malah
menunggu kedatangan Allah, malah jadi Allah yang menunggu saya!
Duh duh duh, lebih pantas rasanya saya menangisi diri ini.
Wahai Kamu! (Begitu saya seharusnya menunjuk hidung saya sendiri dengan jari). Kalau
Kamu benar tauhidnya, perlakukan Allah dengan benar. Perhatikan DIA. Tegakkan tauhid
dalam kehidupan Kamu! Jangan ada yang laen di hati Kamu, kecuali Allah. Jika ada urusan
dunia, lalu Allah datang memanggil, ya segera tinggal saja. Tidak ada yang lebih penting di
dunia ini kecuali menegakkan shalat. Maka bahagian menanti berkumandangnya azan adalah
hal yang mestinya menjadi hal yang luar biasa.
Saya ingin berteriak kepada diri saya, buktikan kalau Anda benar! Benar tauhidnya. Benar
sudah mengatakan Laa ilaaha illallaah. Nyatanya? Belum tuh.
Loh loh loh… Ntar dulu...
Sebenarnya, sedang dialog sendirian, nengajar… Atau sedang menulis sih?
Maaf wahai tanganku, saya sedang berdialog dengan diri sendiri.
Biarkan.
Biarkan ia terus menulis sekenanya.
Sesukanya.
Ya. Saya melihat saya. Jauh benar dari menjadikan Allah sebagai tujuan hidup. Ketika
mencari dunia, mau bersusah payah. Tapi giliran beribadah, gampang benar teriak lelah.
Shalat sunnah tidak dipaksakan untuk ditegakkan. Shalat berjamaah tidak dipaksakan untuk
dikejar di shaf yang pertama. Kehadiran diri tidak digunakan untuk kepentingan sesama.
Setidaknya belum dimaksimalkan potensinya untuk ditujukan pada sebesar-besarnya
kepentingan sesama, dan agama. Keluarga masih terabaikan.
Kurangnya… banyak.
Itulah. Saya melihat saya.
Tapi, Laa ilaaha illallaah.
Tidak ada yang mengajarkan ilmu dan memberikan kesempurnaan langkah kecuali Allah.
Maka saya menghibur diri ini, Laa ilaaha illallaah. Biarlah Allah membimbing saya terus,
sehingga bisa menjadi hamba-Nya yang sesuai dengan apa yang digariskan-Nya.
Ah dunia. Saya tulis buku ini agar saya tidak susah mencari kamu wahai dunia. Tapi saya
ingatkan juga diri saya, bahwa kamu itu tidak penting. Laa ilaaha illallaah. Tidak ada yang
lebih penting kecuali Allah.
Saya tulis buku ini, sebab kasihan melihat diri saya yang sering kesusahan mencari dunia
untuk menjaga kehormatan dan kemuliaan diri. Tapi betapapun, saya hidup di dunia ini.
Rasul pun mengajarkan doa agar kita memohon kepada Allah agar Allah membaguskan dunia
kita sebab di sini kita hidup. SAYA BERTUHAN ALLAH. MENGAPA setelah tuhan saya
adalah Allah, dan Allah adalah pemilik segala apa yang ada di dunia ini, LALU HIDUP
SAYA TETAP SUSAH? Atau merasa susah? Itu tandanya saya belum benar-benar bertuhan
Allah. Itu saja.
Eh saya, ayo maju terus! Sempurnakan terus ilmu dan ikhtiarmu. Jangan lupa terus memohon
bimbingan dari Allah.
Udah mau shubuh tuh. Ayo mandi. Siap-siap menuju masjid. Katakan kepada dunia, bahwa
kamu mau shalat shubuhan dulu. Kalau shalat shubuh sudah tidak disiplin, jangan harap ini
menjadi awal hari yang baik, untuk dunia kamu, untuk urusan permasalahan kamu, untuk
segala hajat kamu…
Loh, koq masih nulis terus? Katanya mau Shubuhan?
Iya iya. Saya akan segera berhenti mengetik, dan men-shut-down komputer ini. Makasih
yaaa.


Salam. Yusuf Mansur. Kampung Ketapang, Senin 27 Agustus 2007, pukul 04.38 WIB.
(tulisan ini “sudah berulang tahun”. Sebab ia sungguh saya tulis tahun lalu, 1hr lebih cepat
dari saya meng-upload tulisan ini ke web
wisatahati.com
dan dijadikan esai
KuliahOnline. Mudah-mudahan Allah subhaanahuu wata’aala benar-benar menjadikan kita
sebagai orang-orang yang mengEsakan-Nya, bertauhid hanya pada-Nya).

4 July 2009

Themes Blackberry

Ssst.. Ada informasi nih tapi jangan bilang siapa-siapa ya.. he..he.. gak just kidding

ada themes buat blackberry 83XX-88XX dimana tuh..?? disini

Aktivasi Blackberry Prepaid Telkomsel & Indosat

Buat yang baru beli Blackberry ada tips nih buat Aktivasi Blackberry Prepaid Telkomsel & Indosat.
Biasanya sih kalau beli baru langsung diaktivasi ditoko anda membeli,seandainya anda mau ganti kartu
Telkomsel & Indosat nih dia informasinya

Kartu Simpati & As:

1. Apabila no perdana/ belum aktivasi gprs nya,
Ketik SMS: GPRS
Kirim ke: 6616
Nanti dapet jawaban dalam 48 jam gprs aktiv, tapi biasanya hitungan menit langsung aktiv.

2. Daftar Blackberry Internet Service.

Ketik SMS: BB REG
Kirim ke: 333
Nanti ada respon utk mengaktivkan blackberry akan dipotong pulsa sebesar Rp.180.000,-.
Jika ok ketik SMS: BB ON
Kirim ke: 333
3. Restart blackberry anda & nanti akan muncul icon-icon baru.
4. Masuk ke icon email setting untuk create account email dll.
5. Pastikan di browser, browser configuration, set ke: internet browser, JANGAN telkomsel.com (default nya ini).

Kartu Mentari & IM3

1. Daftar Blackberry Internet Service

Ketik SMS: bis1 bb 8310
Kirim ke: 889
untuk subscribe selama 7 hari (tarif 50rb).
Ketik SMS: bis2 bb 8310
Kirim ke: 889
untuk subscribe selama 30 hari (tarif 160rb)
*sesuaikan dengan type blackberry yg anda miliki.
2. Restart blackberry anda & nanti akan muncul icon-icon baru.
3. Masuk ke icon email setting untuk create account email dll.