3 September 2009

Bicara Tauhid, Bicara Keyakinan

Bahagia bener saya pagi ini. Hampir jam 01 saya bangun dari tidur yang terasa sudah terlalu
lama. Ugh, padahal saya lihat jam, saya trnyata baru tidur jam 11 malam tadi.

Saya bahagia sebab saya pulang jam 00 lewat dalam keadaan saya sehat. Saya masuk ke
kamar saya, istri saya tertidur dengan pulasnya. Dan di sebelahnya tertidur jagoan kecil kami,
Muhammad Yusuf al Haafidz, juga dalam keadaan yang sehat. Saya kontrol kamar Wirda,
Qumii dan Abang Kun. Semuanya tertidur pulas. Ada ketenangan di wajah-wajah mereka.
Saya cium Wirda dan saya mendoakan anak-anak saya. Tidak lupa juga saya doakan para
santri.

Saya bahagia, sebab jam 10.30 malam sebelumnya saya ketemu dengan Haji Amril dan Ibu
Amril. Dua donatur pondok yang sudah menganggap kami sebagai keluarga mereka dan
mereka juga sebagai keluarga kami. Dari awal kami membangun Bulak dan hingga ke
Sekolah Internasional ini, beliau berdua dan keluarganya menemani kami. Saya makan roti
cane plus kare. Duh, nikmatnya diberi kesehatan.

Saya bahagia, bahwa jam 21 sebelumnya saya berangkat ke Ustadz Abu Sangkan, pimpinan
Shalat Center yang menggerakkan Indonesia untuk shalat khusyu’. Ustadz fenomenal ini
salah satu inspirasi saya. Saya bahagia saya didoakan di tengah-tengah ribuan jamaahnya
yang saat itu hadir di Shalat Center di Jati Makmur, Pondok Gede. Di sana, ada satu jamaah
yang juga sudah seperti keluarga bagi saya pribadi, Haji Syamsul Ma’arif Surabaya. Dan dari
beliaulah menjadi wasilah saya ketemu dengan Ustadz Abu Sangkan. Say didoakan Ustadz
Abu Sangkan agar lidah saya, hati saya, pikiran saya, gerakan saya, menjadi atas nama Allah.
Dan cukup panjang bagi saya Ustadz Abu Sangkan mendoakan saya, hingga saya hampirhampir
meneteskan air mata. Ya, saya rasa, beginilah ketika tamu-tamu saya datang ke
pesantren, selalu saya bacakan doa di tengah-tengah santri. Barangkali inilah salah satu
balasan Allah untuk saya dan keluarga saya. Alhamdulillah. Saya pun bahagia, begitu mau
pulang saya dihadiahinya buku “Spiritual Salah Kaprah”. Alhamdulillah.

Saya bahagia, jam 17.00 nya kurang lebih, saya sampai di kediaman Haji Ramos, orang tua
dari Fadhil santri kami. Meskipun jaraknya terasa jauh, Ketapang-Cilegon, namun ditempuh
“hanya” satu jam dari pondok. Dan saya manfaatkan untuk istirahat. Saya jalan jam 16,
setelah sebelumnya menyempatkan berjamaah dengan indah bersama satu dua guru yang
tersisa di pondok dan para tukang. Diimami oleh mertua saya. Alhamdulillah.

Saya tiba, anak-anak santri yang saat itu berjadwal buka puasa dan tarawih bareng di
kediaman Haji Ramos tampak bahagia sekali. Ternyata memang para santri benar bahagia.
Senang. Sebab kediaman Haji Ramos ini unique. Ada kolam renang yang terkoneksi dengan
sekian rumah yang melingkar di Cilegon Residence, di bahagian tengahnya. Dan kolam
renang itu seperti di tempat pelesir. Para santri senang, saya tambah senang lagi melihatnya.


Untuk lebih lengkapnya silahkan download versi cetaknya


KDW0114 Seri 14 dari 41 seri/esai

2 komentar:

Post a Comment